Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Italiano
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Srpski (lat)
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Tiếng Việt
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Српски
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register. Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of DSpace
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Italiano
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Srpski (lat)
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Tiếng Việt
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Српски
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register. Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Dr. Uke Hani Rasalwati, M.Si"

Now showing 1 - 7 of 7
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    COPING MECHANISM REMAJA DALAM MENGHADAPI SITUASI SOSIAL DI PANTI SOSIAL BINA REMAJA TARUNA JAYA 2 DKI JAKARTA
    (Perpustakaan, 2025-10-21) Devaro Miracle Putra Pratama, NRM. 21.02.035.; Dr. Uke Hani Rasalwati, M.Si; Sulistyary Ardiyantika, S.Sos.I, M.Si
    Devaro Miracle Putra Pratama, NRM. 21.02.035. Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap tekanan psikososial, terutama bagi mereka yang tinggal di Panti Sosial Bina Remaja (PSBR). Tekanan tersebut dapat muncul dalam bentuk konflik antar teman sebaya, aturan ketat panti, hingga perilaku maladaptif yang berkembang sebagai strategi bertahan. Kondisi ini menuntut adanya mekanisme coping yang adaptif agar remaja dapat menghadapi permasalahan secara konstruktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran coping mechanism remaja binaan di Panti Sosial Bina Remaja Taruna Jaya 2 Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan jumlah responden sebanyak 48 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner coping mechanism yang dianalisis menggunakan teknik skoring dan garis kontinum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa coping mechanism berfokus pada masalah memperoleh skor rata-rata 3.871, sedangkan coping mechanism berfokus pada emosi memperoleh skor rata-rata 3.391. Keduanya berada pada kategori sedang, yang berarti kemampuan remaja dalam menggunakan strategi coping masih belum optimal dan cenderung bercampur antara strategi adaptif dan maladaptif. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti mengusulkan Program “PROAKTIF” (Program Penguatan Coping mechanism Adaptif Remaja Panti Sosial). Program ini dirancang melalui empat tahap kegiatan meliputi edukasi coping mechanism, pelatihan problem-focused coping, pelatihan emotion-focused coping, serta simulasi situasi sosial dan penyusunan rencana coping pribadi. Program ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas coping adaptif remaja dalam menghadapi tekanan sosial di panti. Kata kunci: coping mechanism, remaja, panti sosial, problem-focused, emotion - focused
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DALAM PROSES REHABILITASI PENYANDANG DISABILITAS NETRA DI SENTRA WYATA GUNA BANDUNG
    (Perpustakaan, 2025-10-26) TIARA MELANI PUTRI, NRM. 21.02.014; Dr. Uke Hani Rasalwati, M.Si; Sulistyary Ardiyantika, S.Sos.I, M.Si
    TIARA MELANI PUTRI, NRM. 21.02.014. Dukungan Sosial Keluarga Dalam Proses Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Netra Di Sentra Wyata Guna Bandung, Dibimbing oleh UKE HANI RASALWATI and SULISTYARY ARDIYANTIKA Dukungan sosial merupakan pemberian motivasi, bimbingan dan dukungan pribadi ketika seseorang menghadapi suatu masalah atau menemui hambatan dalam melaksanakan kegiatan yang terarah untuk mencapai suatu tujuan. Penyandang disabilitas netra sering menghadapi keterbatasan dalam aspek mental, fisik, intelektual maupun sensorik, yang mengakibatkan hambatan dalam berpartisipasi penuh dalam interaksi dengan lingkungan maupun orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai Dukungan Sosial Keluarga Dalam Proses Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Netra Di Sentra Wyata Guna Bandung. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan metode deskriptif, dan informan ditentukan melalui teknik Purposive Sampling. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah masih adanya keterbatasan keterlibatan keluarga dalam proses rehabilitasi penyandang disabilitas netra. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program rehabilitasi yang ada di sentra wyata guna bandung, seperti tata boga, tata busana, barista, pijat dan pertanian, sangat membantu proses pemulihan dan peningkatan kemandirian penyandang disabilitas netra. Namun, dukungan keluarga belum merata karena keterbatasan waktu, pengetahuan dan pemahaman akan peran mereka. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti mengusulkan program “Sarana Harmoni dan Bantuan Terpadu Bagi Penyandang Disabilitas Netra (SAHABAT NETRA)” dengan tujuan untuk membantu penyandang disabilitas netra meningkatkan pemahaman informasi di Sentra Wyata Guna Bandung. Kata kunci: Dukungan Sosial, Keluarga, blind persons
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    EFEKTIVITAS PROGRAM BIMBINGAN KERJA BAGI NARAPIDANA DI RUTAN KELAS 1 BANDUNG
    (Perpustakaan, 2025-10-19) FAUZAN ADHA NOVIANSYAH, NRP. 21.02.087; Dr. Uke Hani Rasalwati, M.Si; Sulistyary Ardiyantika, S.Sos.I, M.Si
    FAUZAN ADHA NOVIANSYAH, NRP. 21.02.087. Efektivitas Program Bimbingan Kerja Bagi Narapidana Di Rutan Kelas 1 Bandung dibimbing oleh UKE HANI RASALWATI dan SULISTYARY ARDIYANTIKA Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program bimbingan kerja bagi narapidana di Rutan Kelas I Bandung, sebagai bagian dari upaya rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Program ini bertujuan membekali narapidana dengan keterampilan yang berguna saat mereka kembali ke masyarakat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif, melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah enam orang yang terdiri dari narapidana dan petugas terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program bimbingan kerja berjalan cukup baik, ditinjau dari akurasi sasaran, sosialisasi, kejelasan tujuan, dan pemantauan. Namun masih ditemukan sejumlah tantangan, seperti keterbatasan fasilitas, keterbatasan akses lanjutan pasca-bebas, serta kurangnya jejaring pendukung yang berkelanjutan. Sebagai bentuk kontribusi solutif, peneliti merancang program tindak lanjut bernama JEJAK (Jaringan Narapidana untuk Kemandirian dan Aksi Karya). Program ini ditujukan bagi narapidana yang akan bebas, dengan tujuan memperkuat kemandirian sosial dan ekonomi menjelang dan pasca-rutan. Program JEJAK mengusung pendekatan partisipatif berbasis groupwork dan dilaksanakan selama delapan minggu. Kegiatan meliputi asesmen kebutuhan, penyusunan rencana aksi komunitas, pelatihan lanjutan, magang, serta sesi refleksi dan temu stakeholder. Diharapkan, program ini dapat menjadi model reintegrasi sosial yang berkelanjutan dan menurunkan tingkat residivisme. Kata Kunci: Efektivitas, Bimbingan Kerja, Narapidana, Reintegrasi Sosial, Program JEJAK
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    IMPLEMENTASI ART THERAPY TERHADAP PENINGKATAN SELF-ESTEEM ANAK KORBAN TINDAK KEKERASAN DI YAYASAN EMBUN PELANGI KOTA BATAM PROVINSI KEPULAUAN RIAU
    (Perpustakaan, 2025-11-23) Iis Okta Nurria Putri, NRP. 21.02.042; Dr. Uke Hani Rasalwati, M.Si; Moch. Zaenal Hakim, Ph.D
    IIS OKTA NURRIA PUTRI, 21.02.042. Implementasi Art Therapy Terhadap Peningkatan Self-Esteem Anak Korban Tindak Kekerasan di Yayasan Embun Pelangi Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau dibimbing oleh Uke Hani Rasalwati dan Moch. Zaenal Hakim. Kekerasan seksual terhadap anak meninggalkan dampak psikologis yang mendalam, termasuk penurunan self-esteem yang signifikan. Anak sering mengalami krisis nilai diri, kehilangan kepercayaan pada kemampuan pribadi, serta kesulitan mengekspresikan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas art therapy dalam meningkatkan self-esteem anak korban tindak kekerasan seksual di Yayasan Embun Pelangi Kota Batam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen dengan desain Single Subject Design (SSD) model A-B-A. Subjek penelitian adalah seorang anak korban kekerasan seksual dengan tingkat self-esteem yang rendah. Intervensi dilakukan melalui rangkaian sesi art therapy terstruktur yang mendorong anak untuk mengekspresikan pengalaman batin melalui media seni. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan pada aspek self-worth dan selfcompetence. Anak mulai menunjukkan sikap positif terhadap dirinya dan lebih percaya dalam mengambil keputusan. Penelitian ini juga menghasilkan sebuah program pemulihan bernama ARISE (Art for Recovery, Identity, Support and Empowerment) sebagai intervensi berkelanjutan berbasis seni dan dukungan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa art therapy merupakan pendekatan yang empatik, kreatif, dan efektif dalam mendukung proses rehabilitasi anak korban kekerasan seksual. Kata kunci: art therapy, self-esteem, kekerasan seksual, anak, pemulihan psikologis
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    KEMANDIRIAN PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL DI SENTRA TERPADU KARTINI KABUPATEN TEMANGGUNG
    (Perpustakaan, 2025-10-21) AINA ZADA TIFFANY, 21.02.013; Dr. Uke Hani Rasalwati, M.Si; Sulistyary Ardiyantika, S.Sos.I, M.Si
    AINA ZADA TIFFANY, 21.02.013. Kemandirian Penyandang Disabilitas Intelektual Di Sentra Terpadu Kartini Kabupaten temanggung, Dosen Pembimbing: UKE HANI RASALWATI dan SULISTYARY ARDIYANTIKA Kemandirian merupakan kemampuan individu dalam bertingkah laku, merasakan sesuatu, dan mengambil keputusan berdasarkan kehendaknya sendiri. Konsep kemandirian berbeda dengan tidak tergantung karena hal tersebut merupakan bagian untuk memperoleh kemandirian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemandirian penyandang disabilitas intelektual di Sentra Terpadu Karini Kabupaten Temanggung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data terdiri dari tiga penyandang disabilitas intelektual dan tiga pekerja sosial pengampu dari masing-masing penyandang disabilitas intelektual. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kemandirian emosional penyandang disabilitas intelektual di Sentra Terpadu Kartini Kabupaten Temanggung memiliki hubungan yang cukup dekat dengan orang tua dan pengampunya, sudah dapat mengelola emosinya dengan baik. Hasil penelitian untuk kemandirian perilaku menunjukkan bahwa penyandang disabilitas intelektual di Sentra Terpadu Kartini Kabupaten Temanggung belum sepenuhnya dapat mandiri dan perlu ditingkatkan dalam hal pengambilan keputusan, namun secara ADL sudah cukup bagus. Kemandirian nilai untuk sikap dan ketaatan dalam melaksanakan ibadah sudah bagus namun untuk ketaatan terhadap peraturan perlu ditingkatkan lagi. Masalah yang ditemukan dalam penelitian ini adalah ketergantungan terhadap pengampu, kurangnya kepercayaan diri dalam mengambil keputusan, dan kurangnya ketaatan penyandang disabilitas intelektual terhadap peraturan di sentra. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka diusulkan program “Peningkatan Kemandirian Penyandang Disabilitas Intelektual di Sentra Terpadu Kartini Kabupaten Temanggung.” Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas intelektual di Sentra Terpadu Kartini Kabupaten Temanggung. Kegiatan yang dilakukan yaitu berupa pelatihan asertif dan modelling. Kata Kunci: Kemandirian, Disabilitas Intelektual, Sentra Terpadu Kartini
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    SELF DISCLOSURE ANAK KORBAN KEKERASAN KEPADA PENDAMPING DI DINAS SOSIAL PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK KABUPATEN NGANJUK
    (Perpustakaan, 2025-11-23) Syafira Sania Zulfa 21.02.029; Dr. Uke Hani Rasalwati, M.Si; Sulistyary Ardiyantika, S.Sos.I., M.Si
    SYAFIRA SANIA ZULFA, 21.02.029. Self Disclosure Anak Korban Kekerasan Kepada Pendamping di Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Nganjuk, Dibimbing oleh UKE HANI RASALWATI dan SULISTYARY ARDIYANTIKA Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan keterbukaan diri (self disclosure) anak korban kekerasan kepada pendamping di Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Nganjuk. Keterbukaan diri merupakan salah satu aspek penting dalam proses pemulihan psikologis anak korban kekerasan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari tiga anak korban kekerasan dan dua pekerja sosial pendamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan diri anak korban kekerasan dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti ketepatan waktu, motivasi, kedalaman hubungan dengan pendamping, serta kepercayaan yang dibangun selama proses pendampingan. Anak cenderung lebih terbuka apabila pendamping menunjukkan sikap empatik, konsisten, dan menjaga kerahasiaan informasi. Selain itu, durasi pendampingan juga mempengaruhi tingkat kepercayaan anak dalam mengungkapkan pengalaman traumatisnya. Aspek keintensifan, kedalaman, dan keluasan keterbukaan diri juga bervariasi tergantung pada karakteristik masing-masing anak dan pengalaman kekerasan yang dialaminya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa proses self disclosure anak korban kekerasan tidak terjadi secara instan, tetapi memerlukan pendekatan yang intens, waktu yang cukup, serta kompetensi profesional dari pendamping dan adannya dukungan dari keluarga. Hasil temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam praktik pekerjaan sosial, khususnya dalam penanganan anak korban kekerasan. Kata Kunci: Self Disclosure, Anak Korban Kekerasan, Pekerja Sosial, Pendampingan, Dinsos PPPA Nganjuk.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    SELF DISCLOSURE ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) KEPADA KELUARGA DI FORUM KOMUNITAS PEDULI BATANG KABUPATEN BATANG
    (Perpustakaan, 2025-09-22) Zania Nirmala NRM. 21.02.073; Dr. Uke Hani Rasalwati, M.Si; Moch. Zaenal Hakim, Ph.D
    ZANIA NIRMALA, NRM. 21.02.073. Self Disclosure People Living with HIV/AIDS (PLWHA) to Family in Forum Komunitas Peduli Batang in Batang Regency. Supervisors UKE HANI RASALWATI and MOCH. ZAENAL HAKIM. Self disclosure is the process of revealing personal information to others related to feelings, values, and opinions, whether hidden or not. Individuals who are close to others tend to share information about their behavior and personal qualities. This study aims to explore the process of self disclosure by PLWHA to their families in the Forum Komunitas Pedulli Batang, Batang Regency, using a descriptive qualitative approach. The sample was taken using purposive sampling, namely three PLWHA who have engaged in self-disclosure and meet the criteria of having disclosed their HIV status to family members. The data collection techniques used include 1) in-depth interviews, 2) observation, and 3) documentation study. The validity of the data in this study was examined using prolonged observation, source triangulation, technique triangulation, and time triangulation. The informants obtained were three PLWHA, three families, and one accompanying PLWHA informant. Various characteristics of the PLWHA informants were obtained, such as the length of HIV status, the cause of HIV infection, and relationship with family. The research results indicate that the breadth aspect of self disclosure by PLWHA to their families reflects a diverse understanding of HIV/AIDS among them. They share the known information with their family to persuade them of their HIV status and to apprise them of the necessary care. The depth aspect, shows the information shared by PLWHA is categorized as vulnerable, expressing deep feelings to gain empathy from the family, leading to acceptance and receiving emotional and practical support from the family. The target-person aspect shows that PLWHA tend to disclose to certain family members who have a closer relationship and a non-judgmental attitude. The recommendation based on the results of this study is proposes a program Education Counseling and Disclosing HIV Status safely to eliminate stigma within the family and ensure that PLWHA feel safe. Keywords: Self Disclosure, People Living with HIV/AIDS (PLWHA), Family

DSpace software copyright © 2002-2026 LYRASIS

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback