Browsing by Author "Ayi Haryani"
Now showing 1 - 11 of 11
Results Per Page
Sort Options
Item Dampak Pembangunan Jalur Lintas Selatan terhadap Hubungan Sosial Masyarakat Desa Keboireng Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung.(Perpustakaan, 2024-08-08) OCHI RORO PRAMUDA WARDANI, 20.04.280; Dwi Yuliani; Ayi HaryaniOCHI RORO PRAMUDA WARDANI, 20.04.280 The Impact of the Construction of the Jalur Lintas Selatan on the Social Relations of the Community of Keboireng Village, Besuki District, Tulungagung Regency. Supervisors: Dwi Yuliani and Ayi Haryani Impact is a form of human civilization throughout its life as a result of natural, biological and physical changes. This research aims to determine the impact of the construction of the Jalur Lintas Selatan (JLS) on the social relations of the people of Keboireng Village, Tulungagung Regency. Aspects of social relationships are taken from the dimensions that form them, namely social networks, trust in people, and acceptance of diversity. The research method used is descriptive qualitative with data collection techniques, namely interviews, observation and documentation studies. The research results show that the construction of JLS has had a positive impact on three aspects of social relations, namely social networks, trust in people, and acceptance of diversity. The construction of JLS strengthens community social networks through cooperation, participation in religious activities, participation in community activities, and attendance and providing advice at community meetings. Trust between people is good and normal through empathy and warmth. However, countermeasures are needed to prevent conflicts of social jealousy due to differences in economic levels while the businesses being run are on average the same, namely coffee shops. Society also experiences increased acceptance of positive changes to people's backgrounds and lifestyles that influence the diversity of society's dynamics. The problem analysis from this research refers to an issue that has arisen in society, namely social jealousy due to differences in economic levels along with the majority of people's livelihood as traders. So the researcher proposes a program so that the community can increase entrepreneurship with processed products from the potential of the village area, namely "Increasing the Creative Economy of the Keboireng Village Community" which consists of counseling and training activities. Keywords: Impact, Construction, Social Relations, Community ABSTRAK OCHI RORO PRAMUDA WARDANI, 20.04.280 Dampak Pembangunan Jalur Lintas Selatan terhadap Hubungan Sosial Masyarakat Desa Keboireng Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung. Dosen Pembimbing: Dwi Yuliani dan Ayi Haryani Dampak merupakan bentuk dari peradaban manusia sepanjang kehidupannya akibat dari perubahan alam, biologis, dan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) terhadap hubungan sosial masyarakat Desa Keboireng, Kabupaten Tulungagung. Aspek dari hubungan sosial diambil dari dimensi yang membentuknya yaitu jaringan sosial, kepercayaan pada orang, dan penerimaan keberagaman. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pembangunan JLS memberikan dampak positif terhadap tiga aspek hubungan sosial yaitu jaringan sosial, kepercayaan pada orang, dan penerimaan keberagaman. Pembangunan JLS menguatkan jaringan sosial masyarakat melalui kerja sama, partisipasi dalam kegiatan keagamaan, partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan, dan kehadiran serta pemberian saran dalam pertemuan warga. Kepercayaan antar masyarakat berlangsung baik dan normal melalui empati dan kehangatan. Namun diperlukan penanggulangan untuk mencegah konflik kecemburuan sosial akibat perbedaan tingkat perekonomian sementara usaha yang dijalankan rata-rata sama yaitu warung kopi. Masyarakat juga mengalami peningkatan penerimaan atas perubahan positif terhadap latar belakang dan gaya hidup masyarakat yang mempengaruhi keberagaman dinamika masyarakat. Analisis masalah dari penelitian ini merujuk pada isu yang pernah muncul di masyarakat yaitu kecemburuan sosial akibat perbedaan tingkat ekonomi seiring dengan mayoritas mata pencaharian masyarakat sebagai pedagang. Sehingga peneliti mengusulkan program agar masyarakat dapat meningkatkan wirausaha dengan produk olahan dari potensi wilayah desa yaitu “Peningkatan Ekonomi Kreatif Masyarakat Desa Keboireng” yang terdiri dari kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Kata Kunci: Dampak, Pembangunan, Hubungan Sosial, MasyarakatItem Implementasi Cognitive Behavior Therapy dengan Assertive Training (CBT-A) dalam Menurunkan Perilaku Narsistik Penyandang Disabilitas Fisik di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kota Bekasi.(Perpustakaan, 2024-10-14) NOVA TIFFANY SOFAYNDI, 2201027.; Rini Hartini Rinda Andayani; Ayi HaryaniABSTRAK NOVA TIFFANY SOFAYNDI, 2201027. Implementasi Cognitive Behavior Therapy dengan Assertive Training (CBT-A) dalam Menurunkan Perilaku Narsistik Penyandang Disabilitas Fisik di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kota Bekasi. Dosen Pembimbing : Rini Hartini Rinda Andayani dan Ayi Haryani. Penyandang disabilitas fisik menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan mobilitas, kesulitan mencari pekerjaan, ketergantungan pada orang lain, gangguan kesehatan dan tantangan psikososial, salah satunya memiliki perilaku narsistik. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan masalah sosial terutama dalam hubungan interpersonal. Selama ini, pekerja sosial di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi menggunakan Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk menangani permasalahan klien. Namun, CBT yang diberikan belum mengikuti prosedur standar. Hal ini menyebabkan masalah klien tidak terselesaikan secara optimal. Oleh karena itu, peneliti merasa perlu menerapkan CBT yang terstandar dan mengembangkan teknik CBT dengan Assertive Training yang menjadi sebuah teknologi rekayasa baru yang disebut CBT-A. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah CBT-A berpengaruh dalam menurunkan perilaku narsistik pada penyandang disabilitas fisik di STPL Bekasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode SSD dengan desain A-B-A. Subjek penelitian adalah tiga orang penyandang disabilitas yang memiliki masalah perilaku narsistik. Perilaku narsistik yang diukur dalam penelitian ini meliputi perilaku menyombongkan diri, merendahkan orang lain, dan menuntut untuk diistimewakan. Hasil pelaksanaan CBT-A diukur melalui kuesioner Narcissistic Personality Inventory (NPI) sebelum dan sesudah pelaksanaan CBT-A, serta analisis data dalam kondisi dan antar kondisi yang menunjukkan adanya penurunan perilaku narsistik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan CBT-A terbukti berpengaruh dalam menurunkan perilaku narsistik ketiga subjek penelitian. Kata Kunci : Penyandang Disabilitas Fisik, Narsistik, Cognitive Behavior Therapy dan Assertive Training. ABSTRACT NOVA TIFFANY SOFAYNDI, 2201027. Implementation of Cognitive Behavior Therapy with Assertive Training (CBT-A) in Reducing Narcissistic Behavior of Persons with Physical Disabilities at the Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi City. Supervisors: Rini Hartini Rinda Andayani dan Ayi Haryani. People with physical disabilities face a variety of challenges, including limited mobility, difficulty finding employment, dependence on others, health problems and psychosocial challenges, one of which is having narcissistic behavior. If not handled properly, this condition can lead to social problems, especially in interpersonal relationships. So far, social workers at the Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi have used Cognitive Behavior Therapy (CBT) to deal with client problems. However, the CBT provided has not followed standard procedures. This causes the client's problem to not be resolved optimally. Therefore, the researcher felt the need to apply standardized CBT and develop CBT techniques with Assertive Training which became a new engineering technology called CBTA. The purpose of this study is to determine whether CBT-A has an effect in reducing narcissistic behavior in people with physical disabilities at STPL Bekasi. The research method used is SSD method with A-B-A design. The research subjects were three people with disabilities who had narcissistic behavior problems. Narcissistic behaviors measured in this study include bragging behavior, putting others down, and demanding to be privileged. The results of the implementation of CBT-A were measured through the Narcissistic Personality Inventory (NPI) questionnaire before and after the implementation of CBT-A, as well as data analysis within conditions and between conditions which showed a decrease in narcissistic behavior. Thus, it can be concluded that the implementation of CBT-A proved to be influential in reducing the narcissistic behavior of the three research subjects. Keywords: People with Physical Disabilities, Narcissism, Cognitive Behavior Therapy, Assertive Training.Item Implementasi Therapeutic Community Pada Korban Penyalahguna Napza di Lapas Kelas I Madiun.(Perpustakaan, 2024-02-07) FAIRUZ ZAHIRA, 19.04.264; Dwi Yuliani; Ayi HaryaniABSTRACK FAIRUZ ZAHIRA, 19.04.264. Implementation of Therapeutic Community on victims of drug abuse at Madiun Prison. Dwi Yuliani and Ayi Haryani This study aims find out more about implementation of therapeutic community on victims of drug abuse at Madiun Prison which is includes the characteristics of addiction counselor, the assessment stage, the planning stage, and the four stage of therapeutic community, namely the induction stage, the primary stage, the re entry stage, and the after care stage. This research uses a descriptive method with a qualitative approach. The data sources in this study consisted of primary data sources and secondary data sources obtained by collecting data using purposive sampling techniques. Informants in this research amounted to six people. Data collection techniques used were in-depth interviews, observations, and documentation studies. The results of the study showed that all stages of therapeutic community have been implemented. Overall, in the implementation of therapeutic community, several problems were found, such as the assessment stage was not on target, because the number of inmates was determined to be limited even though there were still drug addiction were not given the opportunity to take part in the assessment, and the planning stage there is no discussion because the plan is given the same to the inmates and undifferentiated based on the problem and level of addiction. The researcher design a program to cope this problem by “Capacity Building of Addiction Counselors” Keywords: Implementation, Therapeutic Community, Addiction Counselor ABSTRAK FAIRUZ ZAHIRA, 19.04.264. Implementasi Therapeutic Community Pada Korban Penyalahguna Napza di Lapas Kelas I Madiun. Dwi Yuliani dan Ayi Haryani Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang implementasi therapeutic community pada korban penyalahguna napza di Lapas Kelas I Madiun yang meliputi karakteristik konselor adiksi, tahap asesmen, tahap rencana intervensi, serta pelaksanaan empat tahapan dalam therapeutic community, yaitu tahap induksi, tahap primary stage, tahap re entry, dan tahap after care. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder yang diperoleh dengan pengumpulan data menggunakan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini berjumlah enam orang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tahapan proses menuju implementasi therapeutic community dilaksanakan di Lapas Kelas I Madiun. Namun secara keseluruhan, dalam implementasi therapeutic community ditemukan beberapa permasalahan seperti pada tahap asesmen dilakukan dengan tidak tepat sasaran, karena jumlah warga binaan sudah ditentukan terbatas oleh Lapas Kelas I Madiun sekalipun ada warga binaan yang masih ketergantungan tidak diberi kesempatan untuk mengikuti asesmen serta pada tahap rencana intervensi tidak ada diskusi rencana tindak lanjut karena rencana intervensi diberikan sama kepada warga binaan dan tidak dibedakan berdasarkan masalah dan tingkat kecanduannya. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka peneliti mengusulkan program yaitu, “Peningkatan Kapasitas Konselor Adiksi”. Kata Kunci: Implementasi, Therapeutic Community, Konselor AdiksiItem Kualitas Hidup Keluarga Penerima Manfaat Bantuan Pangan Non Tunai di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.(Perpustakaan, 2024-09-10) Maulana Herviansyah, NRP. 2004171.; Dwi Yuliani; Ayi HaryaniMaulana Herviansyah, NRP. 2004171. Kualitas Hidup Keluarga Penerima Manfaat Bantuan Pangan Non Tunai di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Dibimbing oleh Dwi Yuliani dan Ayi Haryani. Kualitas hidup merujuk pada persepsi individu tentang posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka tinggal, serta hubungan mereka dengan tujuan, harapan, standar, dan kepedulian mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara empiris tentang: 1) karakteristik responden, 2) kesehatan fisik, 3) kondisi psikologis, 4) hubungan sosial, dan 5) lingkungan pada Keluarga Penerima Manfaat Bantuan Pangan Non Tunai. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Simple Random Sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: 1) kuesioner dan 2) studi dokumentasi. Uji validitas dan reliabilitas alat ukur dalam penelitian ini menggunakan uji keterbacaan, face validity dan menggunakan SPSS. Hasil penelitian dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian terhadap 56 Keluarga Penerima Manfaat BPNT menunjukkan bahwa kualitas hidup Keluarga Penerima Manfaat BPNT di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung sebanyak 30 responden atau 53,57 persen memberikan penilaian kualitas hidup dalam rentang 50 hingga 75 yang termasuk kategori kualitas hidup sedang. Berdasarkan hasil penelitian KPM sudah menyadari pentingnya menjaga kesehatan fisik, memiliki hubungan sosial sangat erat baik dengan keluarga maupun lingkungan dan dukungan sosial yang baik. Kemudian memiliki lingkungan yang nyaman dan ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial. Temuan permasalahan pada aspek kondisi psikologis ditandai dengan sering mengalami perasaan negatif, jarang merasa bahagia, dan tidak puas dalam menikmati hidup. Selain itu, dalam aspek lingkungan, jarang memiliki kesempatan untuk bersenang-senang atau rekreasi. Ketidakpastian keuangan, kurangnya penghasilan, dan tanggungan hutang dapat menyebabkan tekanan psikologis bagi KPM. Berdasarkan hasil penelitian diatas, peneliti mengusulkan program Peningkatan Kualitas Hidup Keluarga Penerima Manfaat melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Budidaya Ikan Lele Sistem Bioflok. Program ini menggunakan metode group work dengan tipe recreation skill group. Strategi yang digunakan yaitu kolaborasi dan teknik yang digunakan yaitu capacity building. Kata Kunci: Kualitas Hidup, Keluarga Penerima Manfaat, Program BPNT ABSTRACT Maulana Herviansyah, NRP. 2004171. Quality of Life of Beneficiary Families of NonCash Food Assistance in Gedangsewu Village, Boyolangu District, Tulungagung Regency. Supervised by Dwi Yuliani and Ayi Haryani. Quality of life refers to an individual's perception of their position in life within the context of the culture and value system they live in, as well as their relationship to their goals, expectations, standards, and concerns. This study aims to empirically describe: 1) respondent characteristics, 2) physical health, 3) psychological conditions, 4) social relationships, and 5) environmental factors among Beneficiary Families of Non-Cash Food Aid. The method used is a survey with a descriptive approach. The sampling technique used is Simple Random Sampling. Data collection techniques include: 1) questionnaires and 2) documentation studies. The validity and reliability of the measurement tools in this study were tested using readability tests, face validity, and SPSS. The research results were analyzed using descriptive statistics. The study results for 56 Beneficiary Families of Non-Cash Food Aid in Gedangsewu Village, Boyolangu Sub-district, Tulungagung District, indicate that 30 respondents or 53.57 percent rated their quality of life within the range of 50 to 75, which falls into the moderate quality of life category. Based on the study results, Beneficiary Families recognize the importance of maintaining physical health, have very close social relationships both with family and the community, and receive good social support. Additionally, they have a comfortable environment and contribute to social activities. However, psychological conditions are marked by frequent negative feelings, infrequent happiness, and dissatisfaction with life enjoyment. Furthermore, in terms of the environment, there is a lack of opportunities for leisure or recreation. Financial uncertainty, low income, and debt obligations can cause psychological stress for Beneficiary Families.Based on these findings, the researchers propose a Quality of Life Improvement Program for Beneficiary Families through the Joint Business Group (KUBE) for Catfish Farming using the Biofloc System. This program utilizes a group work method with a recreation skill group type. The strategy employed is collaboration, and the technique used is capacity building. Keywords: Quality of Life, Beneficiary Families, BPNT ProgramItem Pelayanan Sosial Anak Berbasis Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Terhadap Anak Terlantar Di UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Ramah Anak (P2SGRA) Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.(Perpustakaan, 2024-10-05) MEIDA FAHREZAWATI, NRP.17.04.320; Aep Rusmana; Ayi HaryaniMEIDA FAHREZAWATI, NRP.17.04.320 Pelayanan Sosial Anak Berbasis Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Terhadap Anak Terlantar Di UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Ramah Anak (P2SGRA) Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Dibimbing oleh Aep Rusmana dan Ayi Haryani. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji mengenai Pelayanan Sosial Anak Berbasis Lembaga Kesejahteraan Sosisl Anak (LKSA) terhadap Terlantar di UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Ramah Anak (P2SGRA) Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Adapun aspek yang diteliti yaitu mengenai martabat anak sebagai manusia, perlindungan anak, identitas, partisipasi, makanan dan pakaian, pendidikan dan kesehatan, privasi, pengaturan waktu, kegiatan pekerjaan, tata tertib dan disiplin anak. .Metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif. Pemilihan narasumber dilakukan secara purposive sampling terhadap 7 orang informan yakni 1 orang Ketua Tim Kerja Pemenuhan Pelayanan Kebutuhan Dasar, 2 orang Peksos, 1 Pengasuh dan 3 Anak Asuh. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan uji credibility, transferability, dependability, confirmability dan dianalisis menggunakan analisis kualitatif yakni analisis sebelum dan saat di lapangan. Hasil penelitian di UPTD P2SGRA menunjukan bahwa, (1) martabat anak sebagai manusia diberikan oleh lembaga dalam bentuk kebijakan yang melarang adanya tindakan diskriminasi yang dapat menjatuhkan harga diri anak, (2) perlindungan anak yang diberikan berupa kebijakan, prosedur pelaporan, pencegahan, lingkungan yang aman, kerahasiaan laporan mengenai laporan kekerasan anak, (3) perkembangan anak diberikan melaui dukungan kegiatan, materi, kemandirian menejemen waktu, (4) identitas anak diberikan dalam bentuk dokumen dan pemahaman identitas diri, (5) relasi anak diberikan melalui dukungan fasilitas dan kebijakan yang mengatur pertemuan anak dengan orangtua, teman, pengasuh, (6) partisipasi anak diberikan dengan memberikan kesempatan bersuara dan memilih (7) makanan dan pakaian yang sesuai standar,(8) akses terhadap pendidikan dan kesehatan memenuhi standar namun kurang dukungan orangtua, (9) privasi atau kerahasiaan pribadi anak yang terjaga, (10) pengaturan waktu anak, (11) kegiatan atau pekerjaan anak di LKSA di mana lembaga melarang anak melakukan pekerjaan yang mengganggu perkembangan anak, (12) tata tertib dan sanksi tersusun dengan baik. Terdapat 3 permasalahan ditemukan yaitu kurangnya kerjasama orangtua dengan lembaga dalam melaksanakan peran dan tanggung jawab pengasuhan anak, intensitas pertemuan orang tua dengan anak yang terlalu sering dapat mengganggu kemandirian anak, dan belum maksimalnya program pembinaan orang tua. Maka dari itu, dilakukan upaya penangan masalah melalui program “Kolaborasi Pengasuhan antara Orang tua dengan LKSA” melalui metode COCD dengan teknik Capacity Building, Dinamika Kelompok, ice breaking dan Simulasi. Kata Kunci: Pelayanan Sosial, Anak Terlantar, UPTD P2SGRA. ABSTRACT MEIDA FAHREZAWATI, NRP.17.04.320 Child Social Services Based Child Social Welfare Institution (LKSA) Against Child Abduction at UPTD Child Friendly Greek Social Services Centre (P2SGRA) of the Social Department of the West Java Province. Guided by Aep Rusmana and Ayi Haryani. The aim of this research is to examine child social services based on Child Social Welfare Institutions (LKSA) for abandoned children at the UPTD Child Friendly Home Social Service Center (P2SGRA) of the West Java Provincial Social Service. The aspects studied are regarding children's dignity as human beings, child protection, identity, participation, food and clothing, education and health, privacy, time management, work activities, rules and discipline of children. .The method used is descriptive qualitative. The selection of sources was carried out by purposive sampling of 7 informants, namely 1 Head of the Work Team for Fulfillment of Basic Needs Services, 2 Social Workers, 1 Caregiver and 3 Foster Children. The data collection techniques used were in-depth interviews, observation and documentation studies. Test the validity of the data using credibility, transferability, dependability, confirmability tests and analyzed using qualitative analysis, namely analysis before and while in the field. The results of research at UPTD P2SGRA show that, (1) the dignity of children as human beings is provided by institutions in the form of policies that prohibit acts of discrimination that can lower children's self-esteem, (2) child protection is provided in the form of policies, reporting procedures, prevention, and a safe environment. safe, confidentiality of reports regarding reports of child violence, (3) child development is provided through support with activities, materials, independence in time management, (4) child identity is provided in the form of documents and understanding of selfidentity, (5) child relationships are provided through support from facilities and policies which regulates children's meetings with parents, friends, caregivers, (6) children's participation is provided by giving them the opportunity to speak and choose (7) food and clothing that meets standards, (8) access to education and health meets standards but lacks parental support, (9 ) the child's privacy or personal confidentiality is maintained, (10) the child's time management, (11) the child's activities or work at LKSA where the institution prohibits the child from doing work that interferes with the child's development, (12) the rules and sanctions are well structured. There were 3 problems found, namely the lack of cooperation between parents and institutions in carrying out the roles and responsibilities of caring for children, the intensity of parentchild meetings which are too frequent which can disrupt the child's independence, and the parent development program has not been maximized. Therefore, efforts were made to handle the problem through the "Collaborative Parenting between Parents and LKSA" program using the COCD method with Capacity Building techniques, Group Dynamics, ice breaking and Simulation. Keywords: Social Services, Homeless Child, UPTD P2SGRAItem PENGARUH IMPLEMENTASI TERAPI REALITAS -TASK CENTERED (TIREC) DALAM MENURUNKAN IRRATIONAL BELIEFS KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DI YAYASAN GRAPIKS(Perpustakaan, 2023-12-14) RANDY WIGUNA SUDRAJAT 21.01.018; Admiral Nelson Aritonang; Ayi HaryaniABSTRACT RANDY WIGUNA SUDRAJAT. 21.01.018. The Effect of Implementation Reality Therapy – Task Centered (TIREC) in Reducing Irrational Beliefs of Victims of Drug Abuse at the Grapiks Foundation. Guided by: ADMIRAL NELSON ARITONANG dan AYI HARYANI Development of Reality therapy is designed by adding a task centered model as a result of engineering psychosocial therapy. This study aims to analyze the effect of the implementation of Reality Therapy – Task Centered (Tirec) in reducing irrational beliefs of victims of drug abuse at the Grapiks Foundation. The focus of intervention in this study is related to reducing irrational beliefs through the administration of reality therapy - task centered with cognitive aspects of want something to happen with absolute demands, hyperbolic, negatively evaluates himself when his desires are not fulfilled, and demanding of himself so he does not experience uncomfortabel conditions. The research method used is quantitative research using a single subject design (SSD). The research model used is A-B-A that occurs from three phases including: phase A1 (baseline), phase B (intervention), phase A2 (after intervention). The instruments used are the irrational beliefs and the recording sheet of behavioral observations.Data collection techniques used include observation, questionnaires, and documentation studies. The data obtained are analyzed using descriptive statistics and graphs of measurement results. The results of the study before the intervention and after the intervention there is a decrease in the frequency of irrational beliefs of victims of drug abuse. This is evidenced by the results of data analysis in conditions and between conditions that indicate an estimated decrease in direction trend, decreased data traces, decreased levels of change, and smaller overlap data. Then reinforced by the measurement results using a questionnaire that shows a significant decrease in scores. In the measurement of the baseline A1 phase, the scores of the three subjects is at a high level of irrational beliefs. Then in the baseline A2 phase or after the intervention, the scores shows the three subjects are at a low level of irrational beliefs. Based on the results of the study showed the implementation of the development of reality therapy - task centered effectively in reducing irrational beliefs of victims of drug abuse at the Grapiks Foundation, Bandung Regency. Keywords: Irrational beliefs, Victims of Drug Abuse, Tirec ABSTRAK RANDY WIGUNA SUDRAJAT. 21.01.018. Pengaruh Implementasi Terapi Realitas – Task Centered (TIREC) Dalam Menurunkan Irrational beliefs Korban Penyalahgunaan NAPZA di Yayasan Grapiks. Dosen Pembimbing: ADMIRAL NELSON ARITONANG dan AYI HARYANI Pengembangan terapi Realitas didesain dengan menambahkan model task centered sebagai hasil rekayasa terapi psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh implementasi Terapi Realitas – Task Centered (Tirec) dalam menurunkan irrational beliefs korban penyalahgunaan NAPZA di Yayasan Grapiks. Fokus intervensi dalam penelitian ini yaitu terkait penurunan irrational beliefs melalui pemberian terapi realitas – task centered dengan tolak ukur aspek kognitif menginginkan agar sesuatu terjadi dengan tuntutan yang absolut, hiperbolis, menilai negatif terhadap dirinya sendiri saat keinginannya tidak terpenuhi, dan menuntut terhadap dirinya sendiri agar dirinya tidak mengalami kondisi yang tidak nyaman. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan Single Subject Design (SSD). Model penelitian yang digunakan yaitu A-B-A yang terjadi dari tiga fase antara lain: Fase A1 (baseline), Fase B (Intervensi), Fase A2 (setelah intervensi). Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner irrational beliefs dan lembaran pencatatan observasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain observasi, kuesioner, dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh dianalis menggunakan statistik deskriptif dan grafik hasil pengukuran. Hasil penelitian sebelum intervensi dan setelah intervensi terjadi penurunan tingkat irrational beliefs korban penyalahgunaan NAPZA. Hal tersebut dibuktikan oleh hasil analisis data dalam kondisi dan antar kondisi yang menunjukan estimasi kecenderungan arah yang menurun, jejak data yang menurun, level perubahan yang menurun, dan data overlap yang semakin kecil. Kemudian diperkuat dengan hasil pengukuran dengan menggunakan kuesioner yang menunjukan penurunan skor yang cukup signifkan. Pada pengukuran fase baseline A1, skor ketiga subjek berada pada tingkat irrational beliefs yang tinggi. kemudian pada fase baseline A2 atau setelah intervensi, skor menunjukan ketiga subjek berada pada tingkat irrational beliefs yang rendah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan implementasi pengembangan terapi realitas – task centered efektif dalam menurunkan irrational beliefs korban penyalahgunaan NAPZA di Yayasan Grapiks Kabupaten Bandung. Kata Kunci: Irrational beliefs, Korban Penyalagunaan NAPZA, TirecItem Peran Pekerja Sosial dalam Implementasi Program Griya Pesantren Lansia Juara di Unit Pelaksana Teknis Daerah Pusat Pelayanan Sosial Griya Lansia Ciparay Kabupaten Bandung,(Perpustakaan, 2024-03-15) RATNA NURKHALIKA SUGIANSYAH, 19.04.040.; Dwi Yuliani; Ayi HaryaniABSTRAK RATNA NURKHALIKA SUGIANSYAH, 19.04.040. Peran Pekerja Sosial dalam Implementasi Program Griya Pesantren Lansia Juara di Unit Pelaksana Teknis Daerah Pusat Pelayanan Sosial Griya Lansia Ciparay Kabupaten Bandung, Dibimbing oleh Dwi Yuliani dan Ayi Haryani. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang peran peksos dalam memfasilitasi pemenuhan kebutuhan spiritual lansia, peran peksos dalam memberikan pendampingan untuk pengembangan spiritual lansia, dan peran peksos dalam memberikan layanan konsultasi sesuai dengan kebutuhan lansia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang yang terdiri dari 2 orang lansia, 6 orang peksos, dan 2 orang petugas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa peran peksos dalam implementasi program pesantren lansia juara. Peran peksos dalam memfasilitasi pemenuhan kebutuhan spiritual lansia yakni sebagai social planner, koordinator, dan fasilitator. Peran peksos dalam memberikan pendampingan untuk pengembangan spiritual lansia yakni sebagai borderer dan fasilitator. Peran peksos dalam memberikan layanan konsultasi sesuai dengan kebutuhan lansia yakni sebagai konselor dan motivator. Terdapat beberapa hambatan pada peran peksos dalam implementasi program pesantren lansia juara yakni peksos tidak konsisten dengan tupoksi yang semestinya, koordinasi antar profesi dalam implementasi program pesantren lansia juara kurang, dan peksos tidak melakukan pencatatan dalam implementasi program pesantren lansia juara. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mengusulkan program “Peksos Juara untuk Optimalisasi Implementasi Program Pesantren Lansia Juara” menggunakan metode pekerjaan sosial dengan kelompok dengan teknik diskusi. Kata Kunci: Peran Peksos, Lanjut Usia, Pesantren Lansia JuaraItem Peran Pengasuh Sebagai Pengganti Orangtua Di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Fajar Harapan Kota Bandung,(Perpustakaan, 2024-09-11) Siti Rachmawati Karina, NRP. 20.04.101.; Dwi Yuliani; Ayi HaryaniSiti Rachmawati Karina, NRP. 20.04.101. Peran Pengasuh Sebagai Pengganti Orangtua Di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Fajar Harapan Kota Bandung, Dibimbing oleh Dwi Yuliani dan Ayi Haryani Pengasuh di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) memainkan peran penting dalam merawat dan mendidik anak-anak, menggantikan fungsi orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran pengasuh di LKSA menggunakan konsep pengasuhan anak yang meliputi empat aspek: (1) parental efficacy, (2) parental warmth, (3) parental monitoring, dan (4) psychological control. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, melibatkan pengasuh dan anak asuh di LKSA Fajar Harapan sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuh telah memenuhi aspek parental efficacy dengan menyediakan kebutuhan anak seperti kesehatan fisik, kesehatan mental, ekonomi, sosial, gizi, dan pendidikan. Dalam aspek parental warmth, pengasuh memberikan perhatian melalui apresiasi dan nasihat. Pada aspek parental monitoring, pengasuh memantau aktivitas anak dan hubungan sosial mereka. Untuk aspek psychological control, pengasuh menerapkan strategi dalam mengendalikan perilaku anak, pemberian hukuman, dan disiplin. Namun, terdapat beberapa masalah, termasuk kurangnya pengawasan dalam kesehatan fisik, penyediaan gizi, perhatian yang tidak merata, dan pengawasan disiplin yang tidak optimal. Sebagai solusi, penulis mengusulkan program "Parenting Skill Bagi Pengasuh di LKSA" dengan metode social group work dan teknik educational group (kelompok pendidikan) untuk meningkatkan keterampilan pengasuh dalam mengelola peran mereka. Kata Kunci: Peran Pengasuh, Pengasuhan Anak ABSTRACT Siti Rachmawati Karina, NRP. 20.04.101. The Role of Caregivers as Parent Substitutes at Fajar Harapan Children's Social Welfare Institution (LKSA) Bandung City, Supervised by Dwi Yuliani and AyiHaryani. Caregivers in Child Social Welfare Institutions (LKSA) play an important role in caring for and educating children, replacing parental functions. This study aims to explore the role of caregivers in LKSA using the concept of parenting which includes four aspects: (1) parental efficacy, (2) parental warmth, (3) parental monitoring, and (4) psychological control. The method used is descriptive qualitative with interview, observation, and documentation study techniques, involving caregivers and foster children at Fajar Harapan LKSA as informants. The results showed that caregivers have fulfilled aspects of parental efficacy by providingchildren'sneedssuchasphysicalhealth,mentalhealth,economy,social, nutrition, and education. In the aspect of parental warmth, caregivers provide attention through appreciation and advice. In the aspect of parental monitoring, caregivers monitor children's activities and their social relationships. For the psychological control aspect, caregivers apply strategies in controlling children's behavior, punishment, and discipline. However, there are some problems, including lack of supervision in physical health, provision of nutrition, uneven attention, and suboptimal supervision of discipline. As a solution, the authors proposea “Parenting Skills for Caregivers inLKSA”program using social group work methods and educational group techniques to improve caregivers' skills in managing their roles.. Keywords: Role of Caregivers,ChildcareItem Persepsi Remaja tentang Pola Asuh Orang Tua pada Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan di Desa Pangalengan Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung(Perpustakaan, 2024-08-08) PUTRI ZAHRA NUR AZIZAH, 20.04.094; Ayi Haryani; Dwi YulianiPUTRI ZAHRA NUR AZIZAH, 20.04.094. Persepsi Remaja tentang Pola Asuh Orang Tua pada Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan di Desa Pangalengan Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, Dibimbing oleh Dwi Yuliani dan Ayi Haryani. Penelitian dilakukan terhadap remaja dari KPM PKH yang orang tuanya memperoleh edukasi P2K2 terkait pengasuhan dan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran terkait: 1) karakteristik responden, 2) persepsi remaja tentang kontrol orang tua, 3) persepsi remaja tentang hukuman dan hadiah yang diberikan orang tua, 4) persepsi remaja tentang komunikasi dengan orang tua dan 5) persepsi remaja tentang disiplin yang diterapkan orang tua. Penilaian diperoleh dari persepsi kognitif, afektif dan konatif remaja terhadap pola asuh yang diterapkan orang tua meliputi kontrol orang tua, hukuman dan hadiah, komunikasi dan disiplin. Metode yang digunakan adalah survey deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik proporsionate stratified random sampling. Uji validitas alat ukur menggunakan face validity dan software SPSS. Hasil penelitian dianalis menggunakan metode statistik deskriptif. Jumlah responden penelitian sebanyak 52 remaja yang duduk di bangku SMP dan SMA. Teknik pengumpulan data menggunakan: 1) angket dan 2) studi dokumentasi. Hasil penelitian mengenai penilaian terkait pola asuh orang tua menunjukkan sejumlah 30 responden atau 57,69 persen berada pada kategori tinggi dan 22 responden atau 42,31 persen berada pada pada kategori sedang. Penilaian responden terhadap aspek kognitif mengenai pola asuh berada pada kategori tinggi, sedangkan aspek afektif hukuman dan hadiah serta disiplin berada pada kategori tinggi, aspek afektif terhadap kontrol orang tua dan komunikasi berada pada kategori sedang, aspek konatif hukuman dan hadiah serta disiplin berada pada kategori tinggi, dan kontrol orang tua dan komunikasi berada pada kategori sedang. Diusulkan program Peningkatan Kapasitas Orang Tua Keluarga Penerima Manfaat PKH dalam Menerapkan Kontrol dan Komunikasi yang Efektif pada Remaja. Keywords: Persepsi, Remaja, Pola AsuhItem Program Masa Pengenalan Lingkungan Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Banceuy Kota Bandung Selama Pandemi Covid-19.(Perpustakaan, 2024-09-07) MUHAMMAD RIDWAN, NRP. 18.04.314; Eni Rahayuningsih; Ayi HaryaniMUHAMMAD RIDWAN, 18.04.314, Environmental Introduction Period Program for Residents of Bandung City Banceuy Prison during the Covid-19 Pandemic. Supervised by Eni Rahayuningsih dan Ayi Haryani. The environmental familiarization period is the initial program in conducting background research related to correctional inmates, including observing the attitudes and behavior of correctional inmates, providing environmental introductions related to the facilities and infrastructure within the scope of correctional institutions, as well as providing direction regarding rights and obligations of correctional inmates. Apart from that, the environmental introduction period is a period of adaptation for inmates to sustainability in the correctional institution environment as well as an introduction to the regulations contained in correctional institutions for correctional inmates with the aim of understanding the conditions of correctional institutions. This research aims to find out the program for the environmental introduction period for correctional inmates. is in the Banceuy correctional institution in Bandung City. This research is descriptive research with a qualitative approach. The informants in this research were correctional inmates and also correctional institution officers who served as community guidance and care staff. The data collection techniques used by researchers are in-depth interviews, observation and documentation studies. Researchers have researched the understanding of correctional inmates regarding the environmental familiarization program that takes place at the Banceuy correctional institution, and also the stages of the environmental familiarization period at the Banceuy Correctional Institution. The results obtained from this research are that the understanding of correctional inmates regarding the environmental familiarization period program is inaccurate. Based on the inaccurate understanding of correctional inmates regarding the environmental familiarization program, the researcher proposes a program entitled socialization of the environmental familiarization program to inmates at the Banceuy correctional institution to develop the insight and knowledge of correctional inmates in undergoing the environmental familiarization program. Keywoeds : Environmental familiarization period, Correctional Inmates, Correctional Institution ABSTRAK MUHAMMAD RIDWAN, 18.04.314, Program Masa Pengenalan Lingkungan Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Banceuy Kota Bandung Selama Pandemi Covid-19. Dibimbing oleh Eni Rahayuningsih dan Ayi Haryani. Masa pengenalan lingkungan adalah program awal dalam melakukan penelitian terhadap latar belakang yang berkaitan dengan warga binaan pemasyarakatan, antara lain melakukan pengamatan terhadap sikap dan prilaku warga binaan pemasyaraktan, memberikan pengenalana lingkungan terkait dengan sarana dan prasarana yang ada dalam lingkup lembaga pemasyarakatan, serta memberikan arahan mengenai hak dan kewajiban warga binaan pemasyarakatan. Selain itu masa pengenalan lingkungan merupakan masa adaptasi bagi warga binaan terhadap keberlangsungan di lingkungan lembaga pemasyarakatan serta pengenalan peraturan yang terdapat di lembaga pemasyaraktan bagi warga binaan pemasyarakatan yang bertujuan untuk memahami kondisi lembaga pemasyarakatan Penelitian ini betujuan untuk mengetahui Program masa pengenalan lingkungan bagi warga binaan pemasyarakatan yang berada di lembaga pemasyarakatan Banceuy Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah warga binaan pemasyarakatan dan juga petugas lembaga pemasyarakatan yang menjabat sebagai staf bimbingan kemasyaraktan dan perawatan. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yaitu mengunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Peneliti telah meneliti menggenai pemahaman warga binaan pemasyarakatan terhadap program masa pengenalan lingkungan yang berlangsung di lembaga pemasyarakatan Banceuy, dan juga tahapan masa pengenalan lingkungan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Banceuy. Hasil yang di peroleh dari penelitian ini adalah pemahaman warga binaan pemasyarakatan terhadap program masa pengenalan lingkungan kurang tepat. Berdasarkan pemahaman warga binaan pemasyarakatan yang kurang tepat terhadap program masa pengenalan lingkungan peneliti mengusulkan sebuah program yang berjudul sosialisasi program masa pengenaln lingkungan kepada warga binaan di lembaga pemasyarakatan Banceuy untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan warga binaan pemasyarakatan dalam menjalani program masa pengenalan lingkungan. Kata Kunci : Masa Pengenalan Lingkungan, Warga Binaan Pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan.Item Strategi Perempuan Yang Menikah Dini Dalam Memenuhi Kebutuhan Keluarga Di Desa Tanjunghurip Kecamatan Ganeas Kabupaten Sumedang.(Perpustakaan, 2024-08-01) M.SULTON ASSHIDIQI, 20.04.137; Dwi Yuliani; Ayi HaryaniM.SULTON ASSHIDIQI, 20.04.137 The strategy of women who marry early in meeting family needs in Tanjunghurip Village, Ganeas District, Sumedang Regency. Supervisors: Dwi Yuliani and Ayi Haryani Strategy is a way applied by individuals or groups to overcome the problems they face. Many problems can be solved with strategies, including the problem of women marrying early. Women who marry early, namely in their teens, a phase that is often referred to as the period of self-discovery, often face difficulties in going through the growth period. This study aims to describe the phenomenology of how the strategy of women who marry early in meeting family needs in Tanjunghurip Village, Ganeas District, Sumedang Regency, as well as to obtain an overview of the aspects that include: active strategy, passive strategy, and network strategy. The method used in this study is a case study method with a qualitative approach. The data source was determined using a purposive technique to select four women who married early, as well as eight people consisting of parents and cadres. The data collection technique uses in-depth interview techniques, participant observation, and documentation studies. The results of this study show that the four women who married early met their family needs with active strategies such as selling drinks, managing finances, and also becoming kindergarten teachers, as well as carrying out passive strategies by minimizing expenses to be able to meet all family needs, such as buying cheap and durable foodstuffs. They also implement a networking strategy by utilizing people around them such as family and neighbors to borrow money and help take care of their children. In the analysis of the research problem, it was found that women who married early who met immaterial needs were considered poor judging from his confusion about dividing his time between work and with his family. This is due to the clashing times because both husband and wife work and the long distance between husband and wife, so that the management of time with family is low. The researcher proposed the Family Time Management Workshop Program for Women Who Married Early in the hope of increasing women who married early in managing time for their families. Keywords: Strategy, Women Who Marry Early, Meeting Needs ABSTRAK M.SULTON ASSHIDIQI, 20.04.137 Strategi Perempuan Yang Menikah Dini Dalam Memenuhi Kebutuhan Keluarga Di Desa Tanjunghurip Kecamatan Ganeas Kabupaten Sumedang. Dosen Pembimbing: Dwi Yuliani dan Ayi Haryani Strategi adalah cara yang diterapkan oleh individu atau kelompuk untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Banyak permasalahan dapat diselesaikan dengan adanya strategi, termasuk permasalahan perempuan yang menikah dini. Perempuan yang menikah dini yaitu di usia remaja, fase yang sering disebut sebagai masa pencarian jati diri, sering kali menghadapi kesulitan dalam melewati masa pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomenologi tentang bagaimana strategi perempuan yang menikah dini dalam memenuhi kebutuhan keluarga di Desa Tanjunghurip Kecamatan Ganeas Kabupaten Sumedang, serta untuk memperoleh gambaran tentang aspek-aspek yang meliputi: strategi aktif, strategi pasif, dan strategi jaringan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Sumber data ditentukan menggunakan teknik purposive untuk memilih empat perempuan yang menikah dini, serta delapan orang yang terdiri dari orang tua dan kader. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ke empat perempuan yang menikah dini memenuhi kebutuhan keluarga dengan strategi aktif seperti menjual minuman, mengelola keuangan,dan juga menjadi guru TK, serta melakukan strategi pasif dengan meminimalisir pengeluaran untuk dapat terpenuhi semua kebutuhan keluarga, seperti membeli bahan makanan murah dan tahan lama. Mereka juga menerapkan strategi jaringan dengan memanfaatkan orang sekitar seperti keluarga dan tetangga untuk meminjam uang dan membantu merawat anak-anaknya. Pada analisis masalah penelitian ditemukan bahwa perempuan yang menikah dini yang memenuhi kebutuhan immateri dinilai kurang baik dilihat dari kebingungannya membagi waktu bekerja dan bersama keluarga. Hal ini disebabkan oleh waktu yang bentrok karena sama sama bekerja dan jarak yang jauh antara suami dan istri, sehingga memanejemen waktu bersama keluarga rendah. Peneliti mengusulkan Program Penguatan Kapasitas Perempuan Yang Menikah Dini Dalam Menajemen Waktu Keluarga dengan harapan dapat meningkatkan perempuan yang menikah dini dalam memanajemen waktu untuk keluarga. Kata Kunci: Strategi, Perempuan Yang Menikah Dini, Memenuhi Kebutuhan