Social Worker

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 20 of 799
  • Item
    Kualitas Pelayanan Sosial di Panti Asuhan Harapan Mulia Purwokerto Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah.
    (Perpustakaan, 2025-12-05) MEIZHA ZHAHRA, NRP. 21.04.277.; EDI SUHANDA; POPON SUTARSIH
    MEIZHA ZHAHRA, NRP. 21.04.277. Kualitas Pelayanan Sosial di Panti Asuhan Harapan Mulia Purwokerto Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Dibimbing oleh EDI SUHANDA dan POPON SUTARSIH Kualitas pelayanan sosial di panti asuhan merupakan aspek penting yang menentukan kesejahteraan anak asuh. Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai kendala seperti keterbatasan sumber daya manusia dan manajemen pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas pelayanan sosial di Panti Asuhan Harapan Mulia Purwokerto dengan mengacu pada Standar Nasional Pengasuhan Anak sebagaimana tertuang dalam Permensos No. 30 Tahun 2011. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian terdiri dari kepala panti, pengasuh dan anak asuh. Teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan sosial di panti asuhan tersebut secara umum sudah baik, ditunjukkan dengan hubungan yang harmonis antara pengasuh dan anak asuh serta terpenuhinya kebutuhan dasar. Meskipun demikian, ditemukan bahwa masih ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, terutama terkait kapasitas pengasuh dalam memberikan layanan yang lebih profesional. Berdasarkan temuan ini, peneliti menyimpulkan bahwa meskipun pelayanan telah berjalan dengan baik, diperlukan Program "Peningkatan Kapasitas Pengasuh di Panti Asuhan Harapan Mulia". Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Pelayanan Sosial, Kesejahteraan Anak Panti Asuhan
  • Item
    Resiliensi Anak Pasca Bencana Gempa Bumi di SMP SWASTA PGRI Cugenang Kabupaten Cianjur.
    (Perpustakaan, 2025-12-05) A AHMAD JAUHARY ZAENAL, 20.04.159.; NURJANAH; RAHMAT SYARIF HIDAYAT
    A AHMAD JAUHARY ZAENAL, 20.04.159. Resiliensi Anak Pasca Bencana Gempa Bumi di SMP SWASTA PGRI Cugenang Kabupaten Cianjur. Dibimbing oleh NURJANAH dan RAHMAT SYARIF HIDAYAT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat resiliensi anak pasca bencana gempa bumi di SMP Swasta PGRI Cugenang, Kabupaten Cianjur. Gempa bumi yang terjadi berdampak signifikan terhadap kondisi psikososial anak, baik secara emosional, sosial, maupun akademik. Resiliensi menjadi faktor penting dalam proses pemulihan pasca bencana karena membantu siswa untuk bangkit dan beradaptasi terhadap perubahan. Tingkat resiliensi siswa dalam penelitian ini diukur menggunakan teori Reivich dan Shatte (2002) yaitu aspek mengatasi rintangan (overcoming), mengendalikan hal-hal yang tidak mengenakkan (steering through), merespon kemalangan hidup (bouncing back), dan mencapai capaian hidup (reaching out). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, dengan populasi 283 siswa dan sampel sebanyak 74 siswa yang diambil melalui teknik stratified random sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat resiliensi siswa berada dalam kategori sedang dengan skor aktual 8.555 dari skor ideal 11.840 (72,25%), tingkat resiliensi yang baik pada aspek overcoming (73,14%) dan reaching out (78,51%). Namun, masih ditemukan tantangan pada aspek steering through (65,24%) dan bouncing back (70,07%), terutama terkait pengelolaan emosi dan kemampuan konsentrasi. Berdasarkan hasil tersebut, penelitiِ mengusulkanِ programِ intervensiِ “SEKOLAH SIAGA GEMPA (SESAPA)”ِyangِberfokusِpadaِpenguatanِdukunganِpsikososialِberbasisِsekolahِ dengan melibatkan guru, keluarga, dan pekerja sosial secara aktif. Kata Kunci: Resiliensi Anak, Pasca Bencana, SESAPA
  • Item
    Program Bimbingan Sosial bagi Gelandangan dan Pengemis di Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial PMKS Sidoarjo
    (Perpustakaan, 2025-12-02) MUHAMMAD ILHAM FIKRI, NRP. 2104082.; AEP RUSMANA; WIWIT WIDIANSYAH
    MUHAMMAD ILHAM FIKRI, 2104082. Program Bimbingan Sosial bagi Gelandangan dan Pengemis di Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial PMKS Sidoarjo, dibimbing oleh AEP RUSMANA dan WIWIT WIDIANSYAH. Tujuan pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia seutuhnya. Maka secara implisit seluruh warga negara berhak untuk mendapatkan perlindungan, hak dan kewajiban dari negara. Oleh karena itu apabila ada sebagian kecil warga masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya dikarenakan berbagai penyebab yang sangat kompleks sehingga muncul berbagai fenomena permasalahan sosial, dimana salah satunya yaitu permasalahan gelandangan dan pengemis. Maka Dinas Sosial sebagai Instansi terkait berkewajiban untuk melaksanakan penyelenggaraan program penanganan permasalahan tersebut. Balai sebagai penyelenggara teknis yang berada dilingkungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur hadir untuk memberikan solusi secara langsung didalam menangani permasalahan gelandangan dan pengemis. Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial PMKS Sidoarjo menyelenggarakan Program Bimbingan Sosial yang bertujuan untuk merubah perilaku gelandangan dan pengemis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosialnya setelah kembali kepada lingkungan keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana implementasi / penerapan pelaksanaan program dan hasil yang diperoleh. Penelitian ini dilakukan melalui penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang ada terkait dengan permasalahan pada Gelandangan dan Pengemis di Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial PMKS Sidoarjo. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, observasi dan wawancara mendalam dari informan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis model interaktif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa program bimbingan sosial memberikan dampak positif dalam pemulihan fungsi sosial, meningkatkan kemandirian, keterampilan dan kualitas hidup gelandangan dan pengemis. Meskipun bimbingan sosial bagi gelandangan dan pengemis dikatakan cukup optimal, tetapi program bimbingan sosial yang ada belum sepenuhnya memberikan kesempatan kepada gelandangan dan pengemis untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti merancang Program yaitu program yang diberi nama Program Pembinaan Lanjut (P2L) dengan menggunakan metode Social Group Work. Kata Kunci: Bimbingan Sosial , Gelandangan dan Pengemis, Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial PMKS Sidoarjo
  • Item
    Motivasi belajar siswa penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) di Sekolah Menengah Pertama Negeri 276 Jakarta.
    (perpustalkaan, 2025-12-02) Berian Salsybilla Putri NRP. 21.04.228; Dr. Pribowo, M.Pd; Drs. Ujang Muhyidin, M.Pd.
    Berian Salsybilla Putri : Motivasi belajar siswa penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) di Sekolah Menengah Pertama Negeri 276 Jakarta. Dosen Pembimbing Dr. Pribowo, M.Pd dan Drs. Ujang Muhyidin, M.Pd. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara empiris tentang motivasi belajar siswa penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) di Sekolah Menengah Pertama Negeri 276 Jakarta. Motivasi belajar merupakan dorongan yang berasal dari dalam maupun luar diri siswa yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan, sehingga motivasi belajar dapat mengarahkan perilaku belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif dan teknik pengumpulan data melalui kuesioner yang disusun berdasarkan aspek motivasi yaitu dorongan, kebutuhan, dan tujuan. Sampel penelitian berjumlah 80 siswa kelas 7, 8, dan 9 serta penerima KJP tahap 2 tahun 2024, yang ditentukan melalui teknik proportionate stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum motivasi belajar siswa penerima KJP berada pada kategori tinggi dengan skor aktual 13748 dari skor maksimal 17200. Aspek dengan skor tertinggi adalah aspek kebutuhan, sedangkan terendah terdapat pada aspek dorongan dalam belajar. Sementara itu, pernyataan dengan skor terendah adalah seluruh pernyataan adalah “Saya mengikuti kegiatan organisasi sekolah seperti Pramuka, PMR, OSIS, dan lainnya yang dapat membantu saya mencapai cita-cita”, yang menunjukkan rendahnya partisipasi aktif siswa dalam kegiatan pengembangan diri. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti mengusulkan program penyuluhan dan sesi inspiratif dengan tema “AKSARA: Aktifkan Semangat Juara” dengan metode Community Organization and Community Development. Program ini penting dilaksanakan karena partisipasi siswa dalam organisasi mampu membangun semangat, kedisiplinan, tanggung jawab, dan arah cita-cita siswa, yang merupakan bagian penting dari motivasi intrinsik. Kata Kunci : Motivasi Belajar, Siswa, Kartu Jakarta Pintar
  • Item
    Resiliensi Remaja Terlantar Di LKSA Kuncup Harapan Muhammadiyah Kota Bandung
    (Perpustakaan, 2025-12-01) Adellia Anggraeni NRP. 21.04.238; Drs. Wawan Heryana, M.Pd; Drs. Catur Hery Wibawa, MM
    Adellia Anggraeni: Resiliensi Remaja Terlantar Di LKSA Kuncup Harapan Muhammadiyah Kota Bandung , Dosen Pembimbing : Drs. Wawan Heryana, M.Pd dan Drs. Catur Hery Wibawa, MM Resiliensi merupakan kemampuan individu untuk mempertahankan stabilitas psikologis dan menemukan solusi adaptif saat menghadapi kesulitan atau trauma yang berpotensi menimbulkan stres. Remaja, sebagai individu yang berada pada masa pencarian identitas, rentan mengalami rasa kurang percaya diri dan pandangan negatif terhadap diri sendiri, terutama ketika tidak memiliki fasilitas pendukung yang konsisten. Kondisi ini umum terjadi pada remaja yang tinggal di panti asuhan atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Penelitian ini bertujuan menganalisis resiliensi remja pateni di LKSA Kuncup Harapan menggunakan metode deskriptif, dengan tujuh aspek resiliensi Reivich dan Shatte yakni: (a) regulasi emosi, (b) kontrol impuls, (c) optimis me, (d) analisis kausal, (e) empati, (f) efikasi diri, dan (g) reaching out. Sampel penelitian melibatkan lima informan remaja perempuan dengan teknik pengambilan sampel judgement. Hasil penelitian menunjukkan bahwa re silensi remja bertumbuh berkembang, namun berbemari ke arah yang berbeda. Regulasi emosi menjadi tantangan utama, ditandai kecenderungan mengeksresikan stres melalui diam, menarik diri, atau melukai diri. Sebagian informan mulai mengembangkan ketepme nganan menyenangkkan diri dan menyelesaikan masalah. Kontrol impuls relatif baik, meski masih ada kendala. Optimisme terlihat dari adanya cita-cita, tetapi belum diiringi usaha konsisten. Analisis kausal, empati, dan efikasi diri berkembang cukup baik, sedangkan reaching out menunjukkan keberanian mencoba hal baru, meskipun jaring sosial masih terbatas. Sebagai tindak lanjut, dikembangkan Program SEHATI (Sahabat Emosi, Harapan Remaja Tangguh dan Inspiratif) berbasis group work tipe educational group untuk meningkatkan regulasi emosi dan memperkuat resilensi secara menyeluruh. Kata kunci : Resiliensi, Remaja, LKSA
  • Item
    Keberfungsian Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Penerima Manfaat Program Asistensi Rehabilitasi Sosial di Sentra Wyata Guna Bandung.
    (Perpustakaan, 2025-11-26) Agnesia Eki Meilani Nababan, NRP. 21.04.275.; Dra. Yeane E.M. Tungga, MSW; Nandang Susila, AKS., MP.
    Agnesia Eki Meilani Nababan, NRP. 21.04.275. Keberfungsian Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Penerima Manfaat Program Asistensi Rehabilitasi Sosial di Sentra Wyata Guna Bandung. Dibimbing oleh Dra. Yeane E.M. Tungga, MSW dan Nandang Susila, AKS., MP. Keberfungsian sosial menjadi solusi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial secara berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada bantuan materi. Keberfungsian sosial merujuk pada peningkatan kualitas diri agar dapat mengurangi ketergantungan dan hidup secara mandiri melalui pelayanan kesejahteraan sosial. Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dirancang oleh Kementerian Sosial melalui Sentra Wyata Guna menyelanggarakan praktik tersebut dengan tujuan rehabilitasi sosial bagi peningkatan keberfungsian sosial. Berdasarkan hasil observasi peneliti ditemukan bahwa terdapat gejala ketidakberfungsian sosial para penyandang disabilitas sensorik netra (PDSN) ditunjukkan penerima manfaat pasca layanan vokasional banyak yang masih menganggur. Desain penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus tunggal-deskriptif yaitu menggambarkan satu jenis kasus yang menggali proses, dinamika, dan hubungan antara aspek serta berfokus pada konteks ATENSI khususnya bagi PDSN di Sentra Wyata Guna. Adapun aspek yang diteliti yaitu (a) kemampuan pemenuhan kebutuhan dasar, (b) kemampuan melaksanakan peranan, (c) kemampuan pemecahan masalah, (d) kemampuan interpersonal, serta (e) kemampuan interaksi sosial. Informan yaitu 1 orang PDSN penerima manfaat pasca layanan dan 1 orang PDSN penerima manfaat sedang dalam layanan. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerima manfaat PDSN rentan disfungsi sosial ditunjukkan melalui hasil analisis data bahwa aspek melaksanakan peranan dan pemecahan masalah belum baik diakibatkan kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan, sulit akses ke pekerjaan sesuai dengan keterampilan vokasionalnya, dan jurusan vokasional di Sentra Wyata Guna tidak relevan dengan pasar industri tenaga kerja. Adapun program yang diusulkan adalah “Program Optimalisasi Sistem (POS) Layanan Vokasional Sentra Wyata Guna Bandung” bentuk inovasi yang diusulkan peneliti: (1) Penambahan divisi baru pengelola program (2) Rangkaian proses persiapan ditambahkan (3) Networking ke pasar tenaga kerja oleh SDM pengelola (4) Optimalisasi kurikulum berbasis studi dan praktik. Kata kunci: Keberfungsian Sosial, Penyandang Disabilitas Sensorik Netra, Pelatihan Vokasional, ATENSI
  • Item
    KONTROL DIRI KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DI SENTRA SATRIA BATURRADEN JAWA TENGAH
    (Perpustakaan, 2025-11-23) AGIL MAULANA ADINATA, NRP. 21.04.054; Dr. Epi Supiadi, M.Si; Dra. Eni Rahayuningsih, M.P
    AGIL MAULANA ADINATA, NRP. 21.04.054. Kontrol Diri Korban Penyalahgunaan NAPZA di Sentra Satria Baturraden Jawa Tengah. Dibimbing oleh EPI SUPIADI dan ENI RAHAYUNINGSIH Kontrol Diri merupakan kemampuan dalam merencanakan, membimbing, mengendalikan, serta mengarahkan perilaku ke arah yang menghasilkan dampak atau konsekuensi yang positif. dalam proses rehabilitasi kemampuan untuk mengontrol diri menjadi aspek yang sangat penting karena membantu individu untuk menahan dorongan atau keinginan untuk kembali menggunakan NAPZA. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif berupa observasi, studi dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan enam informan yaitu 4 Korban Penyalahgunaan NAPZA, 1 pekerja sosial, dan 1 psikolog. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Karakteristik informan; 2) Kontrol Kognitif Korban Penyalahgunaan NAPZA; 3) Kontrol Keputusan Korban Penyalahgunaan NAPZA; 4) Kontrol Perilaku Korban Penyalahgunaan NAPZA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kontrol Kognitif Korban Penyalahgunaan NAPZA di Sentra Satria Baturraden mencakup 2 Aspek yaitu Memperoleh Informasi terkait penyalahgunaan NAPZA dan Melakukan Penilian. Kontrol Keputusan Korban Penyalahgunaan NAPZA di Sentra Satria Baturraden meliputi 2 Aspek yaitu Keyakinan Mengambil Keputusan, dan Kesempatan, Kebebasan dalam Memilih Tindakan. Kontrol Perilaku Korban Penyalahgunaan NAPZA di Sentra Satria Baturraden meliputi 2 Aspek yaitu Mengatur Pelaksanaan terkait pengendalian diri dan Kemampuan Memodifikasi Stimulus. Berdasarkan hasil Trianggulasi Data melalui Wawancara, Observasi dan Studi Dokumentasi ditemukan kelemahan dalam Kontrol Perilaku. Untuk menjawab tantangan tersebut, peneliti mengusulan program lanjutan bernama “Pulih Bersama” dengab menggunakan Metode dan Teknik Social Case work dan Social Group work dengan Teknik konseling dan Self Help Group. Kata kunci: Kontrol Diri, Korban Penyalahgunaan NAPZA, Konseling, Self Help Group
  • Item
    LAYANAN DUKUNGAN PSIKOSOSIAL PADA PERKEMBANGAN EMOSIONAL ANAK DI GRIYA RAMAH ANAK CISURUPAN KABUPATEN GARUT
    (Perpustakaan, 2025-11-23) Rafindra Ilham Pratama, NRP. 21.04.184; Dr. T.M. Marwanti, M.Si; Sri Ratna Ningrum, S.Sos, MPS. Sp
    Rafindra Ilham Pratama, NRP. 21.04.184. Layanan Dukungan Psikososial pada Perkembangan Emosional Anak di Griya Ramah Anak Cisurupan Kabupaten Garut, Dibimbing oleh Theresia Martina Marwanti dan Sri Ratna Ningrum Layanan Dukungan Psikososial merupakan suatu bentuk intervensi atau bantuan yang diberikan secara sukarela oleh individu, kelompok, atau lembaga kepada individu lain yang mengalami kesulitan dalam aspek psikologis maupun sosialnya. Pendekatan dan metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan metode deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran secara empiris tentang karakteristik responden, Dukungan Emosional, dukungan sosial, pengetahuan dan keterampilan pada perkembangan emosional anak. Populasi pada penelitian ini adalah 35 anak panti GRA pada tingkat Sekolah Menengah Pertama. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik sensus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: 1) kuesioner dan 2) studi dokumentasi. Uji validitas alat ukur menggunakan validitas muka (face validity). Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis data statistik deskriptif menunjukkan bahwa implementasi Layanan Dukungan Psikososial pada perkembangan emosional anak di Griya Ramah Anak Cisurupan Kabupaten Garut secara keseluruhan berada dalam kategori "sedang" dengan nilai 741,777 dan 812. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun upaya telah dilakukan, masih terdapat ruang signifikan untuk peningkatan kualitas layanan. Aspek dukungan emosional teridentifikasi sebagai permasalahan utama dan paling sering terjadi, menandakan adanya ketidakstabilan dalam dukungan emosional anak. Berdasarkan temuan krusial ini, peneliti merekomendasikan usulan program yang dinamakan Program Pendampingan Emosional dan Latihan Interaksi Sosial Anak (PELITA). Program PELITA dirancang untuk mengoptimalkan dukungan psikososial melalui penerapan Metode Social Group Work dengan teknik SelfHelp Group (kelompok bantu diri), diharapkan mampu meningkatkan kapasitas emosional dan interaksi sosial anak-anak secara berkelanjutan. Kata Kunci: Layanan dukungan psikososial, anak, perkembangan emosional
  • Item
    TRADISI MELANGUN PADA SUKU ANAK DALAM TERHADAP PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR KELUARGA DI KECAMATAN NALO TANTAN KABUPATEN MERANGIN PROVINSI JAMBI
    (Perpustakaan, 2025-11-23) ELSA DWI SWASTIKA, NRP. 21.04.244; Dr. Theresia Martina Marwanti, M.Si; Nike Vonika, M. Kesos
    ELSA DWI SWASTIKA, NRP. 21.04.244. Tradisi Melangun Pada Suku Anak Dalam Terhadap Pemenuhan Keluarga Di Kecamatan Nalo Tantan Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Dosen Pembimbing THERESIA MARTINA MARWANTI dan NIKE VONIKA Suku Anak Dalam memiliki tradisi yang unik dan khas yang disebut dengan tradisi Melangun. Melangun, yang merupakan tradisi berpindah tempat mengikuti jejak leluhur. Melalui tradisi ini, cara mereka menghadapi duka dengan melibatkan alam dan kehidupan nomaden mereka. Mereka hidup nomaden tergantung pada ketersediaan hasil buruan dan sumber daya hutan seperti makanan, kayu, dan obatobatan tradisional. Tradisi melangun yang dijalankan oleh masyarakat Suku Anak Dalam menjadi salah satu fenomena yang memengaruhi kehidupan sosial mereka, khususnya dalam aspek pemenuhan kebutuhan dasar keluarga mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji 1) Proses tradisi Melangun, 2) Pemenuhan kebutuhan dasar jasmani, dan 3) Pemenuhan kebutuhan dasar rohani masyarakat Suku Anak Dalam yang ada di Kecamatan Nalo Tantan Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Sumber data menggunakan data primer dan sekunder. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Informan berjumlah 4 orang yaitu masyarakat Suku Anak Dalam yang ada di Desa Sei Ulak, masyarakat Suku Anak Dalam yang sedang melakukan Melangun di Desa Mentawak dan satu salah peksos Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang bekerja di Dinas Sosial Merangin. Adapaun teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Berdasarkan hasil penelitian diketahui permasalahan yang dihadapi informan adalah minimnya pemanfaatan layanan kesehatan oleh Suku Anak Dalam, dan kurang optimalnya kesadaran kebersihan Suku Anak Dalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dasarnya untuk mengatasi permasalahan Suku Anak Dalam diperlukan kebutuhan untuk memfasilitasi pemahaman layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau oleh Suku Anak Dalam dan sosialisasi kebersihan dan kesehatan diri kepada Suku Anak dalam. Mengacu pada permasalahan dan kebutuhan informan, peneliti mengajukan program alternatif pemecahan masalah yaitu Mandiri Sehat Bersama Suku Anak Dalam. Kata Kunci: Tradisi Melangun, Suku Anak Dalam, Pemenuhan Kebutuhan Dasar
  • Item
    KOMUNIKASI SOSIAL PADA ANAK PENYANDANG DISABILITAS SENSORIK RUNGU DI SLB DIAN KAHURIPAN KOTA JAKARTA TIMUR DKI JAKARTA
    (Perpustakaan, 2025-11-23) AMALIA KRISTI, NRP. 21.04.108; Dr. Denti Kardeti, M.Si; Nandang Susila, AKS.,MP
    AMALIA KRISTI, NRP. 21.04.108: Komunikasi Sosial pada Anak Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu di Sekolah Luar Biasa Dian Kahuripan Kota Jakarta Timur. Dosen Pembimbing: Denti Kardeti dan Nandang Susila Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komunikasi sosial pada anak penyandang disabilitas sensorik rungu di SLB Dian Kahuripan Kota Jakarta Timur DKI Jakarta. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Sumber data primer berasal dari observasi langsung, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari arsip sekolah dan literatur terkait. Informan terdiri dari empat orang, yaitu dua guru dan dua orang tua anak penyandang disabilitas sensorik rungu. Teknik pengambilan data meliputi wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan bantuan pedoman wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi sosial anak penyandang disabilitas sensorik rungu mencakup aspek verbal, nonverbal, kontekstual, psikologis, dan teknis yang berkembang melalui pendekatan multisensorik, dukungan lingkungan, dan penggunaan media visual serta teknologi sederhana. Aspek nonverbal kontekstual, psikologis, dan teknis memiliki tantangan tersendiri namun dapat dioptimalkan melalui strategi pembelajaran kontekstual dan komunikasi empatik dari guru dan orang tua. Aspek verbal anak penyandang disabilitas sensorik rungu dari segi bahasa masih menggunakan kalimat sederhana, struktur kalimat belum sesuai dengan kaidah tata bahasa baku, kosakata yang dikuasai masih berkaitan dengan kebutuhan konkret, dan pemahaman terhadap konsep abstrak masih terbatas. Peneliti mengusulkan “Program Penguatan Komunikasi Sosial Terstruktur bagi Anak Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu” sebagai intervensi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi sosial melalui pendekatan verbal dan nonverbal yang kontekstual, reflektif, dan multisensorik. Kata Kunci: Komunikasi Sosial, Anak, Anak Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu
  • Item
    KOMPETENSI PEKERJA SOSIAL DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM MULTILAYANAN DI SENTRA WYATA GUNA BANDUNG
    (Perpustakaan, 2025-11-23) Elis Arsita Dewi, NRP. 21.04.120; Dra. Yeane E.M Tungga, MSW; Nandang Susila A.KS., MP
    Elis Arsita Dewi, NRP. 21.04.120. Kompetensi Pekerja Sosial dalam Implementasi Program Multilayanan di Sentra Wyata Guna Bandung, Dibimbing oleh YEANE EM TUNGGA dan NANDANG SUSILA Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kompetensi pekerja sosial dalam implementasi program multilayanan di Sentra Wyata Guna Bandung. Fokus utama penelitian ini terletak pada tiga aspek kompetensi yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang dimiliki oleh pekerja sosial dalam menjalankan tugas profesionalnya. Program multilayanan merupakan pendekatan layanan sosial yang terpadu dan menyeluruh untuk menjawab berbagai kebutuhan penerima manfaat, sehingga menuntut pekerja sosial untuk memiliki kompetensi yang mumpuni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Informan dalam penelitian ini terdiri dari tiga tingkatan jabatan fungsional pekerja sosial, yaitu Pekerja Sosial Ahli Pertama, Ahli Muda, dan Ahli Madya yang aktif dalam pelaksanaan program multilayanan di Sentra Wyata Guna. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pekerja sosial di Sentra Wyata Guna telah memiliki kompetensi yang cukup dalam aspek pengetahuan, keterampilan, dan nilai. Namun, terdapat perbedaan tingkat penguasaan kompetensi berdasarkan jenjang fungsional. Untuk meningkatan kompetensi pekerja sosial maka diusulkan Program “Penguatan Kompetensi Pekerja Sosial Sentra Wyata Guna melalui Program Capacity Building Terpadu” dengan menggunakan metode social group work. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme pekerja sosial dalam pelaksanaan program multilayanan di sentra agar pelayanan sosial lebih tepat, komprehensif, dan efektif. Kata kunci: kompetensi, pekerja sosial, multi layanan
  • Item
    PERGAULAN BEBAS DI KALANGAN REMAJA DI KELURAHAN TANJUNG BATU KOTA KECAMATAN KUNDUR KABUPATEN KARIMUN KEPULAUAN RIAU
    (Perpustakaan, 2025-11-23) Nur Afiqah Frega, NRP. 21.04.051; Dr. Kanya Eka Santi, MSW; Diana, SE, MP
    Nur Afiqah Frega, NRP. 21.04.051. Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja di Kelurahan Tanjung Batu Kota, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun Kepulauan Riau. Dosen Pembimbing: Kanya Eka Santi dan Diana Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara mendalam tentang Pergaulan bebas di kalangan remaja. Rumusan Masalah: 1)Bagaimana karakteristik remaja yang melakukan pergaulan bebas di Kelurahan Tanjung Batu Kota?, 2) Bagaimana bentuk-bentuk pergaulan bebas di kalangan remaja di Kelurahan Tanjung Batu Kota?, 3) Bagaimana faktor-faktor yang melatarbelakangi pergaulan bebas di kalangan remaja di Kelurahan Tanjung Batu Kota,4) Bagaimana dampak pergaulan bebas di kalangan remaja di Kelurahan Tanjung Batu Kota?, 5) Bagaimana upaya yang dilakukan remaja di Kelurahan Tanjung Batu Kota?. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisa data kualitatif open coding, axial coding, selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bentuk pergaulan bebas yaitu Perkelahian, Minum-Minuman Keras, Menghisap Lem dan Pacaran tanpa batasan. Dalam hal ini faktor yang Melatarbelakangi remaja menyatakan bahwa pengaruh perasaan yang memicu pergaulan bebas, kurangnya perhatian dan pengawasan dari orang tua, keinginan sosial untuk kebutuhan diri sendiri, serta lingkungan sosial yang mendorong pergaulan tidak sehat. Dampak terjadinya keoada remaja adanya perubahan fisik, kesehatan dan akademik. Upaya yang dilakukan memberikan motivasi dan kesadaran diri dari keluarga dan teman. Masalah yang dihadapi remaja tersebut faktor-faktor yang Melatarbelakangi pergaulan bebas, oleh karena itu, berdasarkan Analisist SWOT peneliti mengusulkan program penanganan dan pencegahan pergualan bebas di kalangan remaja menggunakan metode community development dengan teknik kolaborasi dan kampenye. Kata Kunci : Pergaulan Bebas, Remaja, Bentuk-Bentuk Pergaulan, Faktor-faktor Melatarbelakangi, Dampak Pergaulan, Upaya Perubahan
  • Item
    KETERAMPILAN SOSIAL ANAK ASUH DI PANTI YATIM BARAYA KECAMATAN BALEENDAH KABUPATEN BANDUNG
    (Perpustakaan, 2025-11-23) RIZCHA TRINIYULITA NAINGGOLAN, NRP. 21.04.273; Drs. Edi Suhanda, M.Si; Dra. Yeane E. M. Tungga, MSW
    RIZCHA TRINIYULITA NAINGGOLAN, NRP. 21.04.273. Keterampilan Sosial Anak Asuh di Panti Yatim Baraya Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Dosen Pembimbing: EDI SUHANDA dan YEANE ELLEN MARRY TUNGGA. Keterampilan Sosial anak merujuk pada kemampuan dalam hubungan dengan teman sebaya, manajemen diri, kemampuan akademis, kepatuhan dan perilaku asertif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran empiris mengenai: 1) karakteristik responden, 2) hubungan dengan teman sebaya responden, 3) manajemen diri responden, 4) kemampuan akademis responden, 5) kepatuhan responden dan 6) perilaku asertif responden. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan survey deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Populasi dalam penelitian ini adalah 20 anak yang ada di Panti Yatim Baraya Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan sensus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan studi dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan rating scale. Uji validitas yang digunakan adalah validitas muka (face validity), dan uji reliabilitas menggunakan alpha cronbach dengan hasil 0,940 > 0,600 (sangat reliabel). Hasil penelitian dari aspek hubungan dengan teman sebaya berada pada kategori sedang dengan skor total 534 (74,17 persen). Hasil penelitian dari aspek manajemen diri berada pada kategori tinggi dengan skor total 558 (77,5 persen). Hasil penelitian dari aspek kemampuan akademis berada pada kategori sedang dengan skor total 539 (74,86 persen). Hasil penelitian dari aspek kepatuhan berada pada kategori tinggi dengan skor total 375 (78,12 persen). Hasil penelitian dari aspek perilaku asertif berada pada kategori tinggi dengan skor total 363 (75,62 persen). Hasil penelitian menunjukkan kemampuan keterampilan sosial anak asuh berada pada kategori tinggi dengan perolehan skor sebesar 2.369 (75,93 persen). Kemampuan hubungan dengan teman sebaya pada keterampilan sosial anak asuh memiliki skor paling rendah. Program yang diusulkan “SAKTI (Sadar Komunikasi, Tunjukkan Apresiasi, Tingkatkan Empati)” di Panti Yatim Baraya Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung”. Kata Kunci: Keterampilan Sosial, Anak, Panti Sosial Asuhan Anak
  • Item
    INTERAKSI SOSIAL SISWA YANG BERKONFLIK INTERPERSONAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 15 KOTA BANDUNG
    (Perpustakaan, 2025-11-23) Mohamad Sandi Sanjaya, NRP. 21.04.013; Dr. Epi Supiadi, M.Si; Dr. Pribowo, M.Pd
    Mohamad Sandi Sanjaya, NRP. 21.04.013. Interaksi Sosial Siswa yang Berkonflik Interpersonal di Sekolah Menangah Kejuruan Negeri 15 Kota Bandung, Dibimbing oleh: EPI SUPIADI dan PRIBOWO Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk interaksi sosial dalam konflik interpersonal yang dialami oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Fokus penelitian diarahkan pada komunikasi verbal, komunikasi non-verbal, dan penggunaan media sosial sebagai aspek utama interaksi sosial menurut teori McQuail. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik wawancara mendalam terhadap enam siswa yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan pengalaman langsung mereka dalam konflik interpersonal di lingkungan sekolah. Komunikasi verbal ditunjukkan melalui penyampaian pendapat secara langsung, pemberian tanggapan terhadap argumen, dan penjelasan posisi diri secara jelas dan terkendali, yang mencerminkan kemampuan artikulasi dan pengelolaan emosi. Komunikasi non-verbal tercermin dalam ekspresi wajah yang berubah, gestur tubuh yang tertutup, serta penghindaran kontak mata saat berinteraksi kembali dengan pihak yang berselisih. Penggunaan media sosial ditemukan dalam bentuk unggahan sindiran dan ambigu, serta pemutusan interaksi digital, yang berdampak nyata terhadap hubungan sosial di lingkungan sekolah, seperti penghindaran, keterasingan, dan pembentukan eksklusivitas kelompok. Ketiga aspek komunikasi tersebut membentuk pola interaksi yang saling berkaitan dan memengaruhi dinamika relasi sosial siswa pascakonflik. Temuan ini menjadi dasar perancangan program intervensi sosial “Suara Kita: Ruang Damai Remaja” dengan pendekatan Community Organization–Community Development (COCD) yang menekankan prinsip partisipasi aktif, kesadaran kritis, dan pemberdayaan kolektif. Program ini dilaksanakan melalui diskusi kelompok, lokakarya komunikasi damai, pelatihan mediasi sebaya, dan kampanye etika digital yang melibatkan siswa, guru, dan pekerja sosial. Implementasi program diharapkan mampu membangun solidaritas sosial, meningkatkan kemampuan penyelesaian konflik secara konstruktif, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan mendukung kesejahteraan psikososial siswa secara berkelanjutan. Kata Kunci: Interaksi Sosial, Konflik Interpersonal, Community Development
  • Item
    PEMANFAATAN TONGKAT ADAPTIF VERSI KEDUA OLEH PENYANDANG DISABILITAS SENSORIK NETRA DI SENTRA WYATA GUNA BANDUNG
    (Perpustakaan, 2025-11-23) Elsa Dhiya Sahira, NRM. 21.04.084; Dr. Marjuki, M.Sc; Drs. Edi Suhanda, M.Si
    Elsa Dhiya Sahira, NRM. 21.04.084. Pemanfaatan Tongkat Adaptif Versi Kedua Oleh Penyandang Disabilitas Sensorik Netra di Sentra Wyata Guna Bandung. Dibimbing oleh EDI SUHANDA dan MARJUKI Penggunaan alat bantu disabilitas sangat penting bagi penyandang disabilitas sensorik netra dalam menghadapi berbagai tantangan mobilitas, khususnya dalam menjalani aktivitas di ruang publik yang belum ramah aksesibilitas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran nyata terkait bagaimana Tongkat Adaptif Versi Kedua dimanfaatkan oleh penyandang disabilitas sensorik netra di Sentra WyataGunaBandung, ditinjaudarisegikeamanan, kemudahan, dan kemandirian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Tiga orang informan yang telah menerima tongkat adaptif versi kedua dari Sentra Wyata Guna Bandung menjadi sumber data utama. Berdasarkan hasil penelitian, pemanfaatan tongkat adaptif oleh penyandang disabilitas sensorik netra masih belum optimal dan belum dirasakan sepenuhnya manfaatnya. Hal ini tercermin dari penggunaan tongkat yang tidak konsisten serta minimnya pemahaman terhadap fungsi dan potensi alat tersebut. Informan mengaku belum merasakan manfaat dari tongkat adaptif ini dalam aspek keamanan maupun kemudahan penggunaannya. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan perlunya dilakukan pelatihan secara berkelanjutan dan pendampingan teknis dalam penggunaan tongkat adaptif versi kedua. Selain itu, perlu juga dilakukan evaluasi ulang terhadap desain modul tongkat agar lebih ergonomis dan sesuai dengan kebutuhan pengguna netra. Peneliti mengusulkan program bertajuk "Optimalisasi Penggunaan Tongkat Adaptif Versi Kedua di Sentra Wyata Guna Bandung Melalui Pelatihan dan Pengembangan Kelompok" yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan, serta rasa percaya diri pengguna. Program ini diharapkan dapat diajukan ke pihak Sentra Wyata Guna Bandung sebagai solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan penggunaantongkatadaptifolehpenyandangdisabilitassensoriknetra. Kata Kunci: Pemanfaatan, Alat Bantu Mobilitas, Tongkat Adaptif Versi Kedua, Disabilitas Sensorik Netra
  • Item
    KESETARAAN GENDER PERANGKAT DESA PADA PERANGKAT PEREMPUAN DI KECAMATAN JUWIRING KABUPATEN KLATEN
    (Perpustakaan, 2025-11-23) WAHIDATUN NIKMAH, NRP. 18.04.186; Dr. DENTI KARDETI M.Si; ADE SUBARKAH, MPS.Sp
    WAHIDATUN NIKMAH, NRP. 18.04.186. Kesetaraan gender perangkat desa pada perangkat perempuan di Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten. Dibimbing oleh DENTI KARDETI dan ADE SUBARKAH Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran empiris tentang kesetaraan gender pada perangkat desa perempuan di wilayah Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik sensus/sampling total dengan responden 31 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan studi dokumentasi. Alat ukur yang digunakan yaitu rating scale, adapun uji validitas yang digunakan adalah construct validity dan pengujian reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesetaraan gender pada perangkat desa perempuan di Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten berada pada kategori tinggi dengan skor 2.778. Keempat aspek kesetaraan gender berada pada kategori tinggi, yaitu aspek akses dengan skor 771, aspek partisipasi dengan skor 765, dan aspek kontrol dengan skor 579 dan aspek manfaat dengan skor 663. Namun, dari keempat aspek tersebut, aspek kontrol perlu ditingkatkan kembali untuk memaksimalkan pengetahuan tentang kesetaraan gender. Oleh karena itu, diusulkan workshop kepemimpinan bagi perangkat perempuan untuk meningkatkan kemampuan diri. Kata Kunci: Kesetaraan Gender, Perangkat Desa, Perangkat Perempuan
  • Item
    PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH OLEH PERSEROAN TERBATAS PLN INDONESIA POWER MELALUI BENING SAGULING FOUNDATION
    (Perpustakaan, 2025-11-23) IHZA MAULANA RUHYAT, NRP. 21.04.076; Dr. Didiet Widiowati, M.Si; Dra. Popon Sutarsih, M.Pd
    IHZA MAULANA RUHYAT, NRP. 21.04.076. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah oleh Perseroan Terbatas PLN Indonesia Power melalui Bening Saguling Foundation. Dosen Pembimbing: Didiet Widiowati dan Popon Sutarsih Pemberdayaan merupakan pendekatan integral yang mencakup cara berpikir, bertindak, dan membentuk identitas sosial. Dalam praktik pekerjaan sosial, pemberdayaan tidak hanya dipandang sebagai metode teknis, tetapi sebagai paradigma yang menuntun proses interaksi sosial menuju peningkatan kontrol, penguatan kompetensi, serta perluasan partisipasi bermakna masyarakat dalam kehidupan sosial mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah oleh PT PLN Indonesia Power melalui Bening Saguling Foundation di wilayah sekitar Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk pemberdayaan, pendekatan yang digunakan, manfaat yang dirasakan masyarakat, serta faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan program. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Informan penelitian berjumlah 7 orang yang terdiri dari masyarakat mitra binaan, pengelola program di Bening Saguling Foundation, serta pihak PT PLN Indonesia Power. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperiksa menggunakan triangulasi sumber, member checking, dan audit trail. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dilaksanakan melalui pelatihan keterampilan pengelolaan sampah, penyediaan sarana daur ulang, pendampingan usaha mikro berbasis lingkungan, serta edukasi kesadaran ekologis. Program ini memberikan manfaat nyata berupa peningkatan kapasitas masyarakat, terciptanya peluang ekonomi alternatif, serta perbaikan kualitas lingkungan di sekitar waduk. Faktor pendukung meliputi komitmen perusahaan, peran strategis Bening Saguling Foundation, dan kekuatan modal sosial masyarakat, sementara faktor penghambat mencakup keterbatasan dana, partisipasi yang belum merata, serta tantangan perubahan perilaku masyarakat. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti mengusulkan program “Sekolah Daur Ulang Komunitas Saguling” sebagai strategi penguatan berkelanjutan dalam pemberdayaan masyarakat berbasis pengelolaan sampah. Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Pengelolaan Sampah, Corporate Social Responsibility (CSR), Bening Saguling Foundation, Keberlanjutan
  • Item
    PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM MENINGKATKAN KONTROL DIRI KLIEN EX PENYALAHGUNAAN NAPZA DI SENTRA GALIH PAKUAN BOGOR
    (Perpustakaan, 2025-11-23) Papyandros Paut, NRP. 21.04.022; Dra. Yeane. E.M. Tungga, MSW; Drs. Abas Basuni, M.Soc. Admin
    Papyandros Paut, NRP. 21.04.022. Peran Pekerja Sosial Dalam Meningkatkan Kontrol Diri Klien EX Penyalahgunaan NAPZA Di Sentra Galih Pakuan Bogor. Penyalahgunaan NAPZA merupakan masalah sosial yang berdampak pada menurunnya kemampuan individu dalam mengendalikan perilaku, emosi, dan pengambilan keputusan, sehingga memerlukan intervensi profesional untuk memulihkan keberfungsian sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pekerja sosial dalam meningkatkan kontrol diri klien eks penyalahguna NAPZA di Sentra Galih Pakuan Bogor. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari pekerja sosial yang mendampingi klien serta klien eks penyalahguna NAPZA yang menjalani rehabilitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja sosial berperan sebagai fasilitator, advokat, mediator, konselor, dan edukator. Melalui peran fasilitator, pekerja sosial membantu klien mengakses layanan rehabilitasi dan memotivasi perubahan perilaku. Sebagai advokat, pekerja sosial melindungi hak klien dari stigma sosial dan memperjuangkan kebutuhan dasar. Dalam peran mediator, pekerja sosial menengahi konflik antara klien dan lingkungan sosial. Sebagai konselor, mereka memberikan bimbingan emosional dan kognitif untuk memperkuat pola pikir sehat. Sementara itu, peran edukator berfokus pada pemberian pengetahuan dan keterampilan hidup adaptif. Berdasarkan analisis masalah terdapat empat masalah yang berkaitan dengan factor eksternal dalam pelaksanaan peran, sehingga peneliti mengusulkan program penguatan peran pekerja sosial. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa optimalisasi peran pekerja sosial dapat meningkatkan kontrol diri klien melalui penguatan perilaku positif, pola pikir adaptif, dan kemampuan mengambil keputusan yang sehat selama proses rehabilitasi. Kata Kunci: Pekerja Sosial, Kontrol Diri, Penyalahgunaan NAPZA
  • Item
    KONTROL DIRI REMAJA TERHADAP PENYALAHGUNAAN NAPZA KECAMATAN CILEUNYI KABUPATEN BANDUNG
    (Perpustakaan, 2025-11-23) EGGA MUHAMMAD KAESI PUTRA, NRP. 18.04.102; Dr.R.Enkeu Agiati,M.Si; Dyah Asri Gita Pratiwi,M.Kesos
    EGGA MUHAMMAD KAESI PUTRA, NRP. 18.04.102. Kontrol diri remaja terhadap penyalahgunaan napza kecamatan cileunyi kabupaten bandung Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kontrol diri remaja terhadap penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) di Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. NAPZA adalah zat-zat kimia yang bekerja memengaruhi sistem saraf pusat dan dapat menimbulkan ketergantungan, mencakup narkotika, psikotropika, serta zat adiktif lainnya. Masa remaja merupakan fase kritis dalam perkembangan individu, di mana kecenderungan untuk bereksperimen tinggi dan pengaruh lingkungan sangat kuat. Lemahnya kontrol diri menjadi salah satu faktor utama yang mendorong remaja terjerumus dalam penyalahgunaan NAPZA.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner terhadap 32 responden yang dipilih secara purposive. Aspek kontrol diri yang dikaji mengacu pada teori Averill, yaitu kontrol kognitif, kontrol keputusan, dan kontrol perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja memiliki tingkat kontrol diri yang tergolong tinggi, khususnya pada aspek kontrol kognitif dan perilaku, meskipun masih terdapat beberapa responden yang menunjukkan kelemahan pada aspek pengambilan keputusan.Pekerjaan sosial (peksos) adalah profesi kemanusiaan yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat melalui pendekatan sistematik dan berlandaskan nilainilai sosial. Dalam konteks penelitian ini, pekerjaan sosial digunakan sebagai kerangka intervensi untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA melalui penguatan kontrol diri remaja. Metode pekerjaan sosial yang dapat digunakan meliputi pendekatan individu (casework), kelompok (groupwork), dan komunitas (community development). Prinsip-prinsip pekerjaan sosial seperti penerimaan, kerahasiaan, empati, dan non-diskriminasi menjadi landasan dalam membangun hubungan yang konstruktif dengan remaja dalam proses edukasi dan rehabilitasi.Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas kontrol diri melalui intervensi edukatif, peran keluarga, serta dukungan lingkungan sosial yang positif guna mencegah penyalahgunaan NAPZA pada remaja. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi praktisi pekerjaan sosial, pemerintah daerah, serta institusi pendidikan dalam merancang strategi pencegahan berbasis penguatan kontrol diri remaja. Kata kunci: kontrol diri, remaja, penyalahgunaan NAPZA, pekerjaan sosial, prinsip peksos, metode peksos
  • Item
    KETERAMPILAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PEKERJA SOSIAL DALAM PENDAMPINGAN SOSIAL REMAJA DI UNIT PELAKSANA TEKNIS PELAYANAN SOSIAL BINA REMAJA KABUPATEN JOMBANG PROVINSI JAWA TIMUR
    (Perpustakaan, 2025-11-23) Finska Helen Aisyahnty Putri, NRP. 21.04.003; Drs. Ramli, M.Pd; Wiwit Widiansyah. S.ST.,M.Si
    Finska Helen Aisyahnty Putri, NRP. 21.04.003. Keterampilan Komunikasi Interpersonal Pekerja Sosial dalam Pendampingan Sosial Remaja di Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Bina Remaja Kabupaten Jombang Provinsi Jawa Timur. Dibimbing oleh RAMLI dan WIWIT WIDIANSYAH Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterampilan komunikasi interpersonal Pekerja Sosial dalam pendampingan sosial remaja di Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Bina Remaja Kabupaten Jombang Provinsi Jawa Timur. Tujuan penelitian ini didasarkan pada pentingnya peran komunikasi interpersonal dalam proses pendampingan sosial terutama dalam menciptakan hubungan yang mendukung, empatik, dan partisipatif antara Pekerja Sosial dengan klien remaja binaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner dan studi dokumentasi. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh klien remaja binaan yang sedang menerima layanan dari Pekerja Sosial di UPT PSBR Jombang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi interpersonal Pekerja Sosial masuk pada kategori tinggi sehingga secara umum Pekerja Sosial dianggap mampu membangun hubungan yang empatik dan dinamis. Namun, terdapat aspek yang memiliki skor terendah dari seluruh aspek yaitu aspek sikap mendukung karena belum sepenuhnya optimal dilaksanakan. Hal ini berdampak pada kurangnya kepercayaan diri remaja dan ketidakterbukaan dalam proses pendampingan akibat pemanfaatan wadah komunikasi yang masih terbatas dan kurang konsistennya pemberian umpan balik positif dalam memotivasi remaja. Program “PKP3F” dikembangkan sebagai upaya penguatan kapasitas Pekerja Sosial melalui dua kegiatan utama yaitu forum diskusi reflektif antar unsur UPT dan pelatihan komunikasi yang berfokus pada sikap mendukung Pekerja Sosial. Dukungan dari sistem sumber baik formal, informal, dan kemasyarakatan diharapkan mampu memaksimalkan keberlanjutan program. Meskipun terdapat kendala seperti keterbatasan waktu dan sumber daya, program ini berpotensi meningkatkan efektivitas pendampingan dan memperkuat relasi antara Pekerja Sosial dengan klien. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kompetensi komunikasi secara berkelanjutan sebagai bagian dari pengembangan professional Pekerja Sosial di ranah lembaga. Kata Kunci: Pekerja Sosial, Keterampilan Komunikasi Interpersonal, Pendampingan Sosial Remaja, UPT PSBR Jombang